Minggu, 28 Juni 2026

Babak Baru: Bisnis Kuliner & Serbuan Penggemar


Kehidupan Pongky di Desa Rangkat berubah total setelah statusnya naik menjadi hantu verified. Setiap malam, area sekitar pohon beringin dekat pos ronda yang dulunya sepi dan bikin bulu kuduk berdiri, kini disulap jadi mirip pasar malam. Bedanya, yang antre bukan mau naik komidi putar, melainkan mau selfie bareng Pongky.

Namun, dasar Pongky berjiwa kreatif, dia tidak mau cuma modal tampang aesthetic dan goyang TikTok saja.

"Mbak Aya," panggil Pongky suatu sore, saat Aya si Kunti baru saja bangun tidur dan mengumpat di balik rimbunnya pohon beringin.

"Kita gak bisa gini terus. Masa hantu cuma ngandelin uang tiket masuk? Kita harus punya passive income!"
Mbak Aya yang sedang menyisir rambut panjangnya yang kusut menoleh.

"Maksudmu piye, Pongky? Kita mau buka jasa laundry kain kafan?"

"Bukan, Mbak! Kuliner!" seru Pongky antusias (sambil melompat tiga kali karena lupa kalau kakinya masih diikat).

"Di kota itu lagi viral takjil dan jajanan kaki lima. Kebetulan, aku punya resep rahasia yang bakal bikin warga Desa Rangkat ketagihan."

Peluncuran "Kedai Mistis Kiyowo"

Dua hari kemudian, sebuah gerobak kayu dicat merah muda terparkir rapi di dekat pos ronda. Di atasnya terpampang spanduk neon buatan tangan yang ditulis pakai cat fosfor: "Kedai Es Teh & Camilan Pongky".

Menunya sangat unik dan disesuaikan dengan kearifan lokal yang sudah dimodifikasi:

Es Teh Manis Jumbo Pinky (Pakai sirup stroberi rahasia racikan Pongky).

Sempol Ayam Kain Kafan (Sempol ayam jumbo yang dililit telur dadar sampai mirip pocong).

Sostel (Sosis Telur) Horor tapi Manis.

Harganya sengaja dibuat merakyat, cuma Rp 3.000-an per porsi. Mas Hans yang bertindak sebagai manajer operasional (sekaligus seksi keamanan) langsung meniup peluit tanda kedai dibuka.

"Ayo-ayo warga Rangkat! Silakan dicoba! Sempolnya empuk, es tehnya manis, penjualnya... ya gitu deh, agak merah muda!" teriak Mas Hans memakai pengeras suara masjid.

Bang Ibay dan Kang Repot yang awalnya skeptis mencoba menjadi pembeli pertama.

Bang Ibay mengambil satu tusuk Sempol Ayam Kain Kafan dan mencelupkannya ke saus sambal ekstra pedas.
Nyam...

"Demi apa, Hans?! Ini sempolnya kenyal banget, daging ayamnya berasa, gak cuma tepung doang!" Kang Repot heboh sampai gaple di tangannya berhamburan.

"Ho-oh! Terus ini Es Teh Jumbo Pinky-nya seger bener! Manisnya pas, gak bikin batuk. Cocok banget buat nemenin ronda," puji Bang Ibay sambil mengacungkan jempol ke arah Pongky.


Chaos di Malam Minggu

Kelezatan camilan racikan Pongky menyebar secepat gosip di grup WhatsApp ibu-ibu PKK. Memasuki malam Minggu, antrean di Kedai Pongky sudah mengular sampai ke perbatasan desa sebelah.

Pongky mulai kewalahan. Melayani pembeli sambil tangan terikat di dalam kain kafan ternyata membutuhkan keahlian tingkat dewa. Dia harus melompat ke sana kemari untuk mengambil es batu, menuangkan teh, dan menggoreng sempol.

"Aduh, aduh! Tolong, Mba Aya! Sempolnya gosong itu!" teriak Pongky panik saat melihat wajan mulai berasap.

Melihat Pongky kesusahan, Mba Aya si Kunti tidak tinggal diam. Dia memutuskan untuk ikut turun tangan membantu jalannya bisnis.

Mba Aya si Kunti, dengan wajah tertutup rambut hitam panjang, langsung mengambil alih tugas mengocok telur dan menggoreng sempol.

Warga sempat menjerit ketakutan melihat makhluk seram dengan wajah yg tertutupi rambut hitam panjang memegang sodet, tapi begitu mencium aroma sempol yang harum, ketakutan mereka kalah sama rasa lapar.

Mbak Aya si Kuntilanak juga bertugas di bagian delivery order. Dengan kemampuan terbang dan tawanya yang melengking, dia mengantarkan pesanan es teh jumbo ke rumah-rumah warga.

"Hihihihi... Ini pesanan Es Teh Jumbo-nya, Bu Ndut... Totalnya sembilan ribu rupiah... Hihihihi!"

Warga yang menerima pesanan awalnya gemetaran, tapi lama-lama terbiasa.

 "Makasih ya, Mbak Aya. Tolong es batunya besok-besok banyakan ya!" sahut seorang warga dari balik jendela.


Hantu yang Menginspirasi

Malam itu, Kedai Pogky sukses besar. Dagangan mereka ludes tak tersisa dalam waktu dua jam. Keuntungan finansialnya dibagi rata: sebagian untuk beli dupa wangi impor rasa vanilla untuk para hantu, dan sebagian lagi disumbangkan ke kas desa untuk memperbaiki lampu jalanan yang sering mati.

Sambil duduk melepas lelah di pos ronda—menikmati sisa Es Teh Jumbo Pinky bersama Mas Hans, Bang Ibay, Mbak Aya si Kunti, dan Kang Repot.

Pongky tersenyum puas (kali ini beneran kelihatan karena kapas hidungnya copot satu akibat terlalu bersemangat menggoreng).

Desa Rangkat kini punya warna baru. Bukan lagi desa yang ditakuti karena keangkerannya, melainkan desa yang dirindukan karena keramahannya, kulinernya yang murah meriah, dan tentunya... karena ada pocong paling fashionable se-kabupaten yang siap melayani dengan senyuman.

Sabtu, 27 Juni 2026

Pongky Ci Pocong Pinky



Pulang Kampung Ter-Kiyowo


Malam Jumat Kliwon di Desa Rangkat biasanya mencekam. Angin berdesir mistis, burung uncuing bersahutan, dan warga meringkuk di dalam rumah. Namun, atmosfer sakral itu mendadak ambyar malam ini.
Dari kejauhan, alih-alih bayangan putih kusam yang melompat menyeramkan, muncul sesosok makhluk bernuansa shocking pink.
Boing... boing... boing...
Itu Pongky. Pocong milenial asli kelahiran Desa Rangkat yang baru saja merantau puluhan tahun di Jakarta.
Pongky memutuskan mudik karena rindu suasana desa. Tapi, Pongky yang sekarang bukan lagi Pongky yang dulu. Kain kafannya bukan lagi kafan pink polos, melainkan kain flanel custom berwarna merah muda pastel, lengkap dengan ikatan kepala berbentuk pita double-knot ala kelinci. Jangan lupakan aroma tubuhnya—bukan bau tanah atau kamboja, melainkan wangi strawberry boba.


Insiden di Pos Ronda


Tujuan pertama Pongky adalah pos ronda, tempat nongkrong favoritnya dulu bersama Mba Kunti. Di sana, tampak Mas Hans, Kang Repot, dan Bang Ibay sedang main gaple sambil ngopi.
Melihat ada kesempatan untuk bernostalgia, Pongky berinisiatif memberikan kejutan. Dia melompat mendekat, lalu berdiri tepat di belakang Bang Ibay yang sedang menghitung balak.
"Permisi, Bang... Mau nanya jalan ke rumah Mak Bawel lewat mana ya? Aku agak lost nih," bisik Pongky dengan nada manja yang dibuat-buat.
Bang Ibay menoleh. Bukannya menjerit histeris atau pingsan seperti korban pocong pada umumnya, Bang Ibay malah mengucek mata, lalu menatap Pongky dari ujung ikatan kepala sampai ujung simpul kaki.
"Astagfirullah... Hans! Lu liat kagak? Ini mata gua yang katarak apa emang ada permen pencerah kulit raksasa bisa ngomong?" bisik Bang Ibay heboh.
Mas Hans langsung berdiri, mengambil senter, dan menyorot wajah Pongky. "Pocong? Kamu ini makhluk halus apa maskot toko kosmetik keliling, heh?!"
Pongky cemberut (meski tidak terlalu kelihatan karena terhalang kapas di hidung). "Ih, Mas Hans sombong deh! Ini aku, Pongky! Anaknya Emak Bawel! Masa lupa sih? Aku baru pulang merantau dari Citayam Fashion Week!"


Reuni Hantu Lokal


Mendengar keributan, hantu senior Desa Rangkat pun bermunculan dari pohon beringin sebelah pos ronda. Ada Kuntilanak bernama Aya.
"Ya ampun, Pongky?!" Mbak Aya tertawa melengking, tapi kali ini tawanya murni karena geli, bukan mau meneror. "Kain kafan kamu kok bisa sewarna sama lipstik aku? Kamu mau nakutin warga apa mau ikut audisi girlband?"
"Duh, Mbak Aya, please deh. Ini namanya personal branding," sahut Pongky sambil mengibaskan sisa kain di bagian bahunya. "Di kota besar, kita harus tampil beda supaya dapet engagement. Kalau putih mulu, ntar ketuker sama sprei hotel."
Mba Aya si kunti cuma bisa geleng-geleng kepala. "Zaman makin edan. Dulu syarat jadi hantu itu harus bikin merinding, sekarang harus bikin gemas. Gimana harga diri kita sebagai mahluk supranatural, Pong?"
"Ah, Mba Aya kuno! Di Jakarta, hantu yang aesthetic kayak aku gini malah diajak kolaborasi bareng influencer tahu!" balas Pongky bangga.


Berkah Pocong Pinky


Meski awalnya jadi bahan tertawaan, kehadiran Pongky si Pocong Pinky malah membawa berkah bagi Desa Rangkat.
Sejak malam itu, Desa Rangkat tidak lagi mencekam. Anak-anak kecil yang biasanya takut keluar malam justru sengaja begadang di teras rumah sambil membawa ponsel, menunggu Pongky lewat untuk diajak bikin video TikTok bareng.
Bahkan, saking populernya, Mas Hans melihat ini sebagai peluang bisnis.


Pengumuman Desa Rangkat:
Mulai minggu depan, dibuka objek wisata malam: 'Foto Estetik Bareng Pongky si Pocong Pinky'. Tiket masuk: Dua bungkus dupa wangi rasa vanilla.
Pongky pun bahagia. Meskipun gagal menjadi hantu yang menyeramkan, setidaknya dia berhasil menjadi pocong pertama di dunia yang punya status selalu terverified di hati warga Desa Rangkat.