Kehidupan Pongky di Desa Rangkat berubah total setelah statusnya naik menjadi hantu verified. Setiap malam, area sekitar pohon beringin dekat pos ronda yang dulunya sepi dan bikin bulu kuduk berdiri, kini disulap jadi mirip pasar malam. Bedanya, yang antre bukan mau naik komidi putar, melainkan mau selfie bareng Pongky.
Namun, dasar Pongky berjiwa kreatif, dia tidak mau cuma modal tampang aesthetic dan goyang TikTok saja.
"Mbak Aya," panggil Pongky suatu sore, saat Aya si Kunti baru saja bangun tidur dan mengumpat di balik rimbunnya pohon beringin.
"Kita gak bisa gini terus. Masa hantu cuma ngandelin uang tiket masuk? Kita harus punya passive income!"
Mbak Aya yang sedang menyisir rambut panjangnya yang kusut menoleh.
"Maksudmu piye, Pongky? Kita mau buka jasa laundry kain kafan?"
"Bukan, Mbak! Kuliner!" seru Pongky antusias (sambil melompat tiga kali karena lupa kalau kakinya masih diikat).
"Di kota itu lagi viral takjil dan jajanan kaki lima. Kebetulan, aku punya resep rahasia yang bakal bikin warga Desa Rangkat ketagihan."
Peluncuran "Kedai Mistis Kiyowo"
Dua hari kemudian, sebuah gerobak kayu dicat merah muda terparkir rapi di dekat pos ronda. Di atasnya terpampang spanduk neon buatan tangan yang ditulis pakai cat fosfor: "Kedai Es Teh & Camilan Pongky".
Menunya sangat unik dan disesuaikan dengan kearifan lokal yang sudah dimodifikasi:
Es Teh Manis Jumbo Pinky (Pakai sirup stroberi rahasia racikan Pongky).
Sempol Ayam Kain Kafan (Sempol ayam jumbo yang dililit telur dadar sampai mirip pocong).
Sostel (Sosis Telur) Horor tapi Manis.
Harganya sengaja dibuat merakyat, cuma Rp 3.000-an per porsi. Mas Hans yang bertindak sebagai manajer operasional (sekaligus seksi keamanan) langsung meniup peluit tanda kedai dibuka.
"Ayo-ayo warga Rangkat! Silakan dicoba! Sempolnya empuk, es tehnya manis, penjualnya... ya gitu deh, agak merah muda!" teriak Mas Hans memakai pengeras suara masjid.
Bang Ibay dan Kang Repot yang awalnya skeptis mencoba menjadi pembeli pertama.
Bang Ibay mengambil satu tusuk Sempol Ayam Kain Kafan dan mencelupkannya ke saus sambal ekstra pedas.
Nyam...
"Demi apa, Hans?! Ini sempolnya kenyal banget, daging ayamnya berasa, gak cuma tepung doang!" Kang Repot heboh sampai gaple di tangannya berhamburan.
"Ho-oh! Terus ini Es Teh Jumbo Pinky-nya seger bener! Manisnya pas, gak bikin batuk. Cocok banget buat nemenin ronda," puji Bang Ibay sambil mengacungkan jempol ke arah Pongky.
Chaos di Malam Minggu
Kelezatan camilan racikan Pongky menyebar secepat gosip di grup WhatsApp ibu-ibu PKK. Memasuki malam Minggu, antrean di Kedai Pongky sudah mengular sampai ke perbatasan desa sebelah.
Pongky mulai kewalahan. Melayani pembeli sambil tangan terikat di dalam kain kafan ternyata membutuhkan keahlian tingkat dewa. Dia harus melompat ke sana kemari untuk mengambil es batu, menuangkan teh, dan menggoreng sempol.
"Aduh, aduh! Tolong, Mba Aya! Sempolnya gosong itu!" teriak Pongky panik saat melihat wajan mulai berasap.
Melihat Pongky kesusahan, Mba Aya si Kunti tidak tinggal diam. Dia memutuskan untuk ikut turun tangan membantu jalannya bisnis.
Mba Aya si Kunti, dengan wajah tertutup rambut hitam panjang, langsung mengambil alih tugas mengocok telur dan menggoreng sempol.
Warga sempat menjerit ketakutan melihat makhluk seram dengan wajah yg tertutupi rambut hitam panjang memegang sodet, tapi begitu mencium aroma sempol yang harum, ketakutan mereka kalah sama rasa lapar.
Mbak Aya si Kuntilanak juga bertugas di bagian delivery order. Dengan kemampuan terbang dan tawanya yang melengking, dia mengantarkan pesanan es teh jumbo ke rumah-rumah warga.
"Hihihihi... Ini pesanan Es Teh Jumbo-nya, Bu Ndut... Totalnya sembilan ribu rupiah... Hihihihi!"
Warga yang menerima pesanan awalnya gemetaran, tapi lama-lama terbiasa.
"Makasih ya, Mbak Aya. Tolong es batunya besok-besok banyakan ya!" sahut seorang warga dari balik jendela.
Hantu yang Menginspirasi
Malam itu, Kedai Pogky sukses besar. Dagangan mereka ludes tak tersisa dalam waktu dua jam. Keuntungan finansialnya dibagi rata: sebagian untuk beli dupa wangi impor rasa vanilla untuk para hantu, dan sebagian lagi disumbangkan ke kas desa untuk memperbaiki lampu jalanan yang sering mati.
Sambil duduk melepas lelah di pos ronda—menikmati sisa Es Teh Jumbo Pinky bersama Mas Hans, Bang Ibay, Mbak Aya si Kunti, dan Kang Repot.
Pongky tersenyum puas (kali ini beneran kelihatan karena kapas hidungnya copot satu akibat terlalu bersemangat menggoreng).
Desa Rangkat kini punya warna baru. Bukan lagi desa yang ditakuti karena keangkerannya, melainkan desa yang dirindukan karena keramahannya, kulinernya yang murah meriah, dan tentunya... karena ada pocong paling fashionable se-kabupaten yang siap melayani dengan senyuman.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar