Keesokan harinya, kesuksesan "Divisi Kurir Gaib" ternyata menciptakan tren baru yang luar biasa merepotkan.
Aplikasi Rangkat-Food bukan lagi jebol, tapi sudah seperti bendungan jebol di musim hujan.
Mas Hans sampai harus merendam ponsel bututnya di dalam mangkuk es batu karena mesinnya terus-menerus mengepulkan asap tipis.
"Dorma! Ini gimana?! Orderan naik 500%!" teriak Mas Hans, suaranya sudah naik dua oktav mirip penyanyi seriosa.
"Tapi ada masalah baru. Konsumen sekarang makin tuman!"
Hansip Dorma yang sedang sibuk menghitung setoran uang lecek di atas meja pos ronda langsung mendongak.
"Masalah apa lagi? Kurir kita kurang? Itu di kuburan sebelah baru ada yang kelar masa magang."
"Bukan kurang, tapi permintaannya makin aneh-aneh!" Mas Hans menunjukkan layar ponselnya yang bergetar tanpa henti.
Catatan Pesanan #112: Sempol isi keju, wajib diantar sama Genderuwo yang kemarin. Tolong suruh dia pakai apron motif maid biar makin gemas. Kalau tidak, saya kasih bintang dua.
Catatan Pesanan #115: Pocongnya kalau antar jangan lompat lewat pintu depan ya, lewat jendela lantai dua langsung. Kamar saya di atas, saya malas turun tangga. Makasih, Kak. UwU.
Mba Acik yang baru datang membawa satu baskom besar adonan sempol langsung lemas.
"Aduh, Mba Dorma... itu si Gendru (Genderuwo gudang tua) tadi subuh nangis di pojokan pohon beringin. Dia gak mau narik hari ini."
"Lho, kenapa? Kurang sajen?" tanya Dorma heran.
"Bukan, Mba. Kemarin pas dia anter orderan ke rumah Bu RT, dia dipaksa ikutan challenge TikTok 'Ayam Bebek Angsa' sama anak-anak siskamling. Katanya harga dirinya sebagai makhluk halus yang ditakuti tujuh turunan langsung anjlok ke kerak bumi," keluh Mba Acik sambil mengelap keringat dinginnya yang sewarna kuah bakso.
Belum sempat Dorma menjawab, mendadak terdengar suara gaduh dari luar pos ronda.
Brak! Brak! Brak!
Sesosok Pocong melompat masuk dengan kecepatan penuh, lalu mengerem mendadak menggunakan hidungnya di lantai hingga mengeluarkan bunyi Sreeeettt! Pita pink kembar di kepalanya sudah miring ke kiri, dan kain kafannya penuh dengan coretan spidol hitam.
"Kenapa kamu, Pong? Habis dikejar anjing?" tanya Dorma panik.
Pocong itu menggelengkan kepalanya yang terikat kencang dengan dramatis.
Karena tidak bisa bicara, dia menggunakan bahasa isyarat tubuh yang luar biasa heboh.
Dia melompat ke kanan, memutar badannya, lalu menunjuk-nunjuk tulisan di kain kafannya.
Mas Hans mendekat untuk membaca tulisan tersebut.
"'Harta, Tahta, Pocong Merah Muda'. Lah? Kamu dicoret-coret sama fans?!"
Pocong itu mengangguk pasrah, lalu menjatuhkan dirinya ke lantai, pura-pura pingsan karena trauma psikologis akibat dikejar-kejar ibu-ibu majelis taklim yang gemas ingin menjadikannya objek swafoto.
"Ini tidak bisa dibiarkan!" Dorma memukul meja pos ronda dengan pentungannya.
Gubrak!
"Makhluk halus desa kita ini aset UMKM, bukan badut sirkus! Kita harus lakukan evaluasi standar operasional prosedur (SOP)!"
Sore itu juga, diadakan rapat pleno darurat Divisi Kurir Gaib.
Suasana pos ronda kembali mencekam, namun kali ini bercampur dengan aroma minyak angin dan parfum stroberi murahan karena para Kuntilanak baru saja memakai hand body biar kulit pucat mereka terlihat glowing di depan kamera pelanggan.
"Dengar semuanya!" Dorma berdiri di atas kursi, memegang peluit dengan gagah.
"Mulai jam ini, kita berlakukan SOP baru untuk menjaga keselamatan kerja dan kesehatan mental kalian!"
Dorma menuliskan poin-poin di papan tulis pos ronda:
Gendru (Genderuwo): Dilarang keras menuruti permintaan memakai baju maid atau kostum anime apa pun. Kamu adalah maskor gahar, bukan cosplayer!
Para Kuntilanak: Jika ada pelanggan yang meminta kalian tertawa melengking hanya untuk konten ringtone HP mereka, kenakan biaya tambahan Rp 5.000 per lima detik. Jangan mau rugi bandar!
Pocong: Mulai besok, kamu luar biasa dilarang lewat jendela lantai dua. Kalau terjepit di tralis, Mas Hans malas ngolesin minyak goreng buat ngeluarin kamu lagi!
"Ada pertanyaan?!" seru Dorma.
Semua makhluk halus itu saling berpandangan.
Tiba-tiba, salah satu Kuntilanak pohon mangga mengangkat tangannya yang berkuku hitam panjang dengan malu-malu.
"Anu, Mba Dorma... kalau ada pelanggan yang ngasih tips-nya bukan uang, tapi nomor WhatsApp... itu boleh diterima gak? Kemarin ada mas-mas kosan yang bilang katanya saya 'tipe dia banget' karena sama-sama suka begadang dan bermata panda..."
Pongky yang sejak tadi menyimak langsung terjungkal dari meja, sementara Mba Acik spontan mengulek sambalnya terlalu kencang sampai cobek batunya retak.
"TIDAK BOLEH!" teriak Dorma, Mas Hans, dan Mba Acik serempak.
"Kita ini layanan pesan antar makanan, bukan aplikasi cari jodoh beda dimensi!"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar