Sabtu, 04 Juli 2026

Kurir Ghaib Kedai Pongky




Keberhasilan rating bintang lima malam itu rupanya berbuntut panjang.

Keesokan harinya, aplikasi Rangkat-Food milik Mas Hans kembali jebol.

Namun, ada yang aneh dengan kolom pesanan kali ini.


​"Waduh, Dorma! Cilaka dua belas ini!" teriak Mas Hans panik, membuat Pongky yang sedang asyik boing-boing langsung mendarat darurat di atas meja.


​Hansip Dorma yang sedang memoles ulang lipstik merah menyalanya langsung menoleh ketus.

"Ada apa lagi, Mas Hans? Ada orderan dari penguasa Laut Selatan minta diantar ke pantai?"


​"Bukan! Ini... lihat catatannya!" Mas Hans menyodorkan ponsel bututnya.

"Ada 50 orderan Sempol Ayam yang masuk serentak, tapi semua pembeli menulis catatan yang sama: 'Wajib diantar oleh Kuntilanak Kuncir Dua Anime. Kalau yang antar manusia biasa, saya kasih bintang satu!'"


​Mba Acik yang sedang khusyuk mengulek sambal horor langsung tersentak. Rambut panjangnya sempat berdiri tegak saking kagetnya.

"Aduh, Mba Dorma... Acik mendadak jadi influencer ojol ya? Tapi tangan Acik cuma dua, mana bisa antar 50 tempat sekaligus? Nanti kalau Acik kelelahan, muka Acik bisa makin pucat, dikira kurang darah, bukan kurang sajen."


​Dorma terdiam sejenak, otaknya yang biasa dipakai untuk strategi ronda malam langsung berputar cepat. Dipandanginya Mba Acik, lalu pandangannya beralih ke arah pohon beringin tua di pojok gang. Sebuah ide brilian bin nekat mendadak melintas.


​"Acik, kamu punya grup WhatsApp sesama penghuni pohon atau perempatan gak?" tanya Dorma serius.


​Mba Acik mengerjukan dahinya. "Ada, Mba. Nama grupnya 'Ghibah Alam Sebelah (No Manusia)'. Kenapa, Mba?"


​"Undang mereka semua ke pos ronda sekarang! Kita bikin Divisi Kurir Gaib Rangkat-Food!" seru Dorma bersemangat sambil meniup peluitnya. Prreeeeeettt!


​Setengah jam kemudian, pos ronda Desa Rangkat mendadak berhawa sedingin kulkas dua pintu. Di hadapan Hansip Dorma, sudah berbaris rapi tiga kuntilanak pohon mangga, dua genderuwo dari gudang tua, dan satu pocong lompat yang tersesat.


​Dengan ketegasan layaknya jenderal perang, Hansip Dorma memberikan pengarahan.

"Dengar semuanya! Hari ini kalian kerja paruh waktu di Kedai Pongky. Tugas kalian cuma antar makanan. Ingat aturan mainnya: dilarang menakut-nakuti pelanggan, dilarang minta tips menyan, dan yang paling penting..."


​Dorma mengeluarkan sekardus ikat rambut pink cadangan milik Pongky. 

"...kalian semua harus dikuncir dua biar estetik dan ramah lingkungan!"


​Malam itu, warga Desa Rangkat dibuat terheran-heran sekaligus gemas. Tidak ada lagi suasana seram. Di jalanan desa, tampak pocong melompat-lompat lincah membawa kantong plastik makanan dengan kepala dihiasi pita pink kembar. Di sudut lain, ada genderuwo setinggi dua meter yang dengan sopan mengetuk pintu rumah warga,

"Permisi Kak, Go-Ghost... eh, Rangkat-Food datang. Jangan lupa bintang limanya ya, Kak, UwU..." sambil memberikan pose finger heart dengan jarinya yang sebesar pisang tanduk.


​Desa Rangkat sukses besar. Kedai Pongky resmi menjadi pelopor kuliner "Pesugihan Legal dan Halal", membuktikan bahwa di tangan Hansip Dorma, hantu pun bisa diberdayakan demi mendongkrak UMKM desa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar