Kamis, 02 Juli 2026

Pelurusan Nama dan Rebranding Mba Kunti




Suasana sore di pos ronda mendadak agak canggung. Saat Pongky sedang asyik menata Mochi Pocong Cokelat Lumer di etalase gerobak pinknya, Emak Bawel tiba-tiba datang sambil berkacak pinggang, menatap tajam ke arah papan menu dan Mas Hans yang sedang sibuk mencatat pesanan.

"Heh, Hans! Ibay! Repot! Kalian ini gimana sih, dari kemarin panggil Mba Kunti kok 'Aya, Aya' melulu!" omel Emak Bawel sambil mengetukkan gagang sapu lidinya ke tanah.

"Nama asli dia itu Acik! Kuntilanak asli Rangkat, bukan kuntilanak pindahan dari kota!"

Bang Ibay langsung menepuk jidatnya sendiri.

"Astagfirullah, iya! Maaf, Mak! Efek kebanyakan begadang ronda sama liat yang semok-semok, ingatan saya jadi agak eror. Maaf ya, Mba Acik!"

Mba Acik si Kuntilanak yang sedang bersiap di depan wajan sempol langsung tertawa melengking, tapi kali ini terdengar agak malu-malu.

"Hihihihi... Nggak apa-apa, Bang Ibay. Nama 'Acik' memang terdengar terlalu lokal ya, makanya kemarin waktu Mas Hans salah panggil, aku diem aja... Hihihihi!"

"Oh, dear... Nama 'Acik' itu justru sangat otentik dan punya karakter kuat!" timpal Mommy Rangkat yang baru saja turun dari mobilnya dengan anggun.

Beliau membetulkan posisi kacamata hitamnya.

"Jingga, tolong ambilkan spidol fosfor baru. Kita harus ganti nama di papan menu gerobak Pongky biar branding-nya makin solid."

Ci Jingga—yang sore itu kembali tampil aduhai dengan kebaya janggan yang memikat—dengan cekatan menyerahkan spidol sambil mengembuskan asap kretek cengkehya yang wangi.

"Ini, Mommy... sekalian biar aku yang tulis ulang menunya biar tulisannya kelihatan lebih seksi dan menggoda."

Dengan tulisan tangan Ci Jingga yang rapi dan estetik, papan menu di samping gerobak kayu dicat merah muda itu kini tertulis jelas:

"Sempol Ayam Kain Kafan - Resep Rahasia Mba Acik & Pongky (Rp 3.000)".


Misi Belanja Jilid Dua: Pongky, Mba Acik, dan Si Hansip Galak

Setelah urusan nama selesai, Pongky menyadari stok ubi ungu dan bunga telang untuk menu Es Bunga Telang "Magic Lavender" mereka mulai menipis. Karena kapok dikerubuti ibu-ibu pasar subuh sendirian sampai dompetnya harus dirogoh orang lain, kali ini Pongky mengajak Mba Acik untuk menemaninya belanja.

Tentu saja, perjalanan dua mahluk halus (yang satu asli, yang satu hasil reject pabrik) ke pasar tidak pernah biasa-biasa saja.
Hansip Dorma dengan setia mengawal di depan, membunyikan peluitnya setiap kali ada warga yang berkerumun menghalangi jalan.

Prreeeeeettt!!

"Kasih jalan! Tim produksi Kedai Pongky dan Mba Acik mau lewat! Jangan ada yang berani nyubit pita pink Pongky atau narik rambut Mba Acik!" teriak Dorma tegas, membuat area los pasar sayur langsung rapi seketika.

Kelucuan kembali terjadi di lapak Wak Iyem. Kali ini, Mba Acik berniat membantu Pongky memilih kelapa muda.
Namun, karena tangannya yang putih pucat dengan kuku panjang menjuntai, Wak Iyem sempat kaget setengah mati.

"Aduh, Mba Acik! Lu kalau mau ngambil kelapa bilang-bilang napa, kuku lu hampir aja bikin kelapanya bolong duluan!" seru Wak Iyem sambil mengelus dada.

"Hihihi... Maaf, Wak Iyem. Ini sekalian saya bantu kupas pakai kuku saya ya, biar Pongky gak repot ngebawanya lagi," sahut Mba Acik ramah.

Pongky yang berdiri di sampingnya hanya bisa melompat-lompat gembira boing-boing sambil menyodorkan keranjang rotan pinknya.

"Wak Iyem, sekalian ubi ungunya satu kilo lagi ya. Kemarin laku keras diborong sama teman-teman arisannya Mommy Rangkat!"


Sore yang Meriah di Kedai Pongky

Sepulang dari pasar, Kedai Pongky langsung diserbu pelanggan bahkan sebelum matahari benar-benar tenggelam. 

Mas Hans dengan sigap mengatur meja VVIP untuk Mommy Rangkat dan Ci Jingga, sementara Kang Repot bertugas menata es batu.

Mba Acik dengan nama barunya yang sudah diluruskan tampil makin percaya diri.
Di depan wajan panas, dia menggoreng Sempol Ayam Kain Kafan dengan sangat lihai.
Lilitan telur dadarnya digoreng keemasan, menghasilkan bentuk pocong mini yang sangat rapi dan menggugah selera.

"Ini pesanan khusus untuk Ci Jingga, Sostel Horor tapi Manis ekstra saus pedas," ujar Mba Acik sambil menyodorkan piring dengan anggun menggunakan ujung kukunya.

"Wah, makasih banyak ya, Mba Acik sayang. Makin sukses deh bisnis kita," ucap Ci Jingga manja sambil menerima pesanan tersebut, lalu duduk santai mendampingi Mommy Rangkat yang sedang asyik menikmati kesegaran Es Magic Lavender ungu miliknya.

Di balik gerobak pinknya, Pongky tersenyum lebar. Meskipun nama Mba Acik sempat tertukar dan asal-usul Pongky sempat dipertanyakan, malam itu Pongky tahu bahwa bersama Mba Acik, Emak Bawel, dan seluruh warga Desa Rangkat, "Kedai Pongky" miliknya akan selalu menjadi tempat yang paling dirindukan di desa ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar