"Bukan Pocong Biasa: Menakut-nakuti dengan Keimutan, Menghibur dengan Tulisan." Kenalkan, Pongky Ci Pocong Pinky! Jika pocong pada umumnya hobi bikin merinding dan doyan keluyuran di kuburan tengah malam, Pongky justru kebalikannya. Dia adalah satu-satunya hantu bungkus di dunia yang mengalami krisis identitas ekstrem: kain kafannya berwarna pink pastel (merah muda), baunya bukan minyak mistik melainkan strobery boba.
Selasa, 30 Juni 2026
Gaya Elit Jualan Melejit ala Duo Sosialita Rangkat
Senin, 29 Juni 2026
Serbuan Pelanggan dan Penertiban Malam Minggu
Minggu, 28 Juni 2026
Rahasia di Balik Ikatan Kain Flanel: Kedatangan Para Sosialita Desa
Babak Baru: Bisnis Kuliner & Serbuan Penggemar
Sabtu, 27 Juni 2026
Pongky Ci Pocong Pinky
Pulang Kampung Ter-Kiyowo
Malam Jumat Kliwon di Desa Rangkat biasanya mencekam. Angin berdesir mistis, burung uncuing bersahutan, dan warga meringkuk di dalam rumah. Namun, atmosfer sakral itu mendadak ambyar malam ini.
Dari kejauhan, alih-alih bayangan putih kusam yang melompat menyeramkan, muncul sesosok makhluk bernuansa shocking pink.
Boing... boing... boing...
Itu Pongky. Pocong milenial asli kelahiran Desa Rangkat yang baru saja merantau puluhan tahun di Jakarta.
Pongky memutuskan mudik karena rindu suasana desa. Tapi, Pongky yang sekarang bukan lagi Pongky yang dulu. Kain kafannya bukan lagi kafan pink polos, melainkan kain flanel custom berwarna merah muda pastel, lengkap dengan ikatan kepala berbentuk pita double-knot ala kelinci. Jangan lupakan aroma tubuhnya—bukan bau tanah atau kamboja, melainkan wangi strawberry boba.
Insiden di Pos Ronda
Tujuan pertama Pongky adalah pos ronda, tempat nongkrong favoritnya dulu bersama Mba Kunti. Di sana, tampak Mas Hans, Kang Repot, dan Bang Ibay sedang main gaple sambil ngopi.
Melihat ada kesempatan untuk bernostalgia, Pongky berinisiatif memberikan kejutan. Dia melompat mendekat, lalu berdiri tepat di belakang Bang Ibay yang sedang menghitung balak.
"Permisi, Bang... Mau nanya jalan ke rumah Mak Bawel lewat mana ya? Aku agak lost nih," bisik Pongky dengan nada manja yang dibuat-buat.
Bang Ibay menoleh. Bukannya menjerit histeris atau pingsan seperti korban pocong pada umumnya, Bang Ibay malah mengucek mata, lalu menatap Pongky dari ujung ikatan kepala sampai ujung simpul kaki.
"Astagfirullah... Hans! Lu liat kagak? Ini mata gua yang katarak apa emang ada permen pencerah kulit raksasa bisa ngomong?" bisik Bang Ibay heboh.
Mas Hans langsung berdiri, mengambil senter, dan menyorot wajah Pongky. "Pocong? Kamu ini makhluk halus apa maskot toko kosmetik keliling, heh?!"
Pongky cemberut (meski tidak terlalu kelihatan karena terhalang kapas di hidung). "Ih, Mas Hans sombong deh! Ini aku, Pongky! Anaknya Emak Bawel! Masa lupa sih? Aku baru pulang merantau dari Citayam Fashion Week!"
Reuni Hantu Lokal
Mendengar keributan, hantu senior Desa Rangkat pun bermunculan dari pohon beringin sebelah pos ronda. Ada Kuntilanak bernama Aya.
"Ya ampun, Pongky?!" Mbak Aya tertawa melengking, tapi kali ini tawanya murni karena geli, bukan mau meneror. "Kain kafan kamu kok bisa sewarna sama lipstik aku? Kamu mau nakutin warga apa mau ikut audisi girlband?"
"Duh, Mbak Aya, please deh. Ini namanya personal branding," sahut Pongky sambil mengibaskan sisa kain di bagian bahunya. "Di kota besar, kita harus tampil beda supaya dapet engagement. Kalau putih mulu, ntar ketuker sama sprei hotel."
Mba Aya si kunti cuma bisa geleng-geleng kepala. "Zaman makin edan. Dulu syarat jadi hantu itu harus bikin merinding, sekarang harus bikin gemas. Gimana harga diri kita sebagai mahluk supranatural, Pong?"
"Ah, Mba Aya kuno! Di Jakarta, hantu yang aesthetic kayak aku gini malah diajak kolaborasi bareng influencer tahu!" balas Pongky bangga.
Berkah Pocong Pinky
Meski awalnya jadi bahan tertawaan, kehadiran Pongky si Pocong Pinky malah membawa berkah bagi Desa Rangkat.
Sejak malam itu, Desa Rangkat tidak lagi mencekam. Anak-anak kecil yang biasanya takut keluar malam justru sengaja begadang di teras rumah sambil membawa ponsel, menunggu Pongky lewat untuk diajak bikin video TikTok bareng.
Bahkan, saking populernya, Mas Hans melihat ini sebagai peluang bisnis.
Pengumuman Desa Rangkat:
Mulai minggu depan, dibuka objek wisata malam: 'Foto Estetik Bareng Pongky si Pocong Pinky'. Tiket masuk: Dua bungkus dupa wangi rasa vanilla.
Pongky pun bahagia. Meskipun gagal menjadi hantu yang menyeramkan, setidaknya dia berhasil menjadi pocong pertama di dunia yang punya status selalu terverified di hati warga Desa Rangkat.
