Selasa, 30 Juni 2026

Gaya Elit Jualan Melejit ala Duo Sosialita Rangkat



Malam kian larut, namun area di sekitar gerobak pink "Kedai Es Teh & Camilan Pongky" justru makin berkilau. Di sudut pos ronda, sebuah meja lipat kayu mendadak disulap menjadi area VVIP. Di sanalah tempat bertahtanya Mommy Rangkat yang anggun dan putri kesayangannya, Ci Jingga, sang Gadis Kretek yang penampilannya malam itu benar-benar aduhai.

"Jingga, dear... tolong ambilkan kipas cendana Mommy di tas. Gerah banget ya, untung ada Es Teh Manis Jumbo Pinky racikan Pongky ini yang menyelamatkan kewarasan Mommy," ujar Mommy Rangkat sambil membetulkan letak kacamata hitamnya dengan jari kelingking yang dihiasi cincin permata sebesar biji sempol.

Ci Jingga—yang malam itu tampil memikat dengan kebaya janggan ketat yang ngepas badan serta lilitan kain jarik—melangkah dengan gaya anggun sekaligus aduhai yang membuat Bang Ibay dan Kang Repot di dekat pos ronda kembali salah fokus.

"Ini, Mommy... Udah Jingga ambilkan," sahut Ci Jingga dengan nada suara yang serak-serak basah, manja, dan berkelas. Sembari menyerahkan kipas, tangan kirinya dengan lihai mengeluarkan sebatang kretek aroma cengkeh premium racikan tangannya sendiri.
Creeek...
Ci Jingga menyalakan kretek tersebut. Dalam sekejap, asap tipis ber aroma manis, gurih, dan menenangkan langsung menguar, berpadu sempurna dengan wangi stroberi boba dari tubuh Pongky dan keharuman Sempol Ayam Kain Kafan yang digoreng Mba Aya.


Kolaborasi Bisnis Kelas Atas

Melihat Kedai Pongky yang begitu ramai tapi manajemennya masih agak berantakan, jiwa pebisnis Mommy Rangkat mendadak bergejolak.
Sebagai sosialita nomor satu di desa, beliau tidak bisa melihat potensi cuan yang tidak terkelola dengan estetik.

"Pongky, sini deh, Le," panggil Mommy Rangkat, melambaikan tangan indahnya yang berkuku manicure rapi.

Pongky melompat mendekat dengan bunyi boing-boing yang khas. "Iya, Mommy Rangkat yang cantik dan elegan? Ada yang kurang dari es tehnya?" tanya Pongky sopan.

"Es teh kamu itu perfection, tapi marketing kamu kurang sentuhan luxury," ucap Mommy Rangkat dengan nada protektif sekaligus membimbing.

"Bagaimana kalau kita bikin collaboration? Mommy punya jaringan arisan sosialita tingkat kabupaten. Kita bisa bikin private catering bertema 'Mistis Estetik'."

"Wah, maksudnya gimana tuh, Mom?" Pongky berkedip heran.

Ci Jingga mendekat, bersandar manja di tiang gerobak pink sambil mengembuskan asap kreteknya secara elegan.

"Maksud Mommy, jualan kamu ini bisa naik kelas, Pong... Jadi menu premium. Nanti tiap pembelian paket 'Sempol Kain Kafan Jumbo', bonusnya satu batang kretek eksklusif racikan aku. Kita namakan paketnya: Paket Isap Selimut... Gimana? Estetik dan aduhai, kan?"

Pongky langsung bertepuk tangan (meski agak susah karena tangannya terikat kain flanel).

"Ih, Ci Jingga jenius banget! Omzet kita bisa naik nih!"


Penertiban dan Perlindungan Penuh

Namun, rencana bisnis itu sempat terganggu saat gerombolan pemuda dari desa tetangga datang dan mulai bertingkah genit, mencoba menggoda Ci Jingga yang malam itu memang terlihat sangat memikat.

"Neng Jingga... aduhai banget sih malam ini. Bagi kreteknya satu dong, sekalian nomor WhatsApp-nya," goda salah satu pemuda sambil cengengesan.

Sebelum Emak Bawel sempat mengayunkan sapu lidinya, Hansip Dorma sudah lebih dulu maju paling depan. Dengan baret miringnya yang gagah, Dorma menepuk pundak pemuda itu menggunakan tongkat T-nya.

"Heh! Kurang kerjaan kamu ya! Jangan berani-berani menggoda aset VVIP Desa Rangkat! Baris yang rapi di sana kalau mau beli sempol, atau saya kurung kamu di sel pos ronda!" bentak Dorma dengan suara menggelegar.

Mas Hans yang berada di belakang Dorma langsung ikut berkacak pinggang.

"Betul itu! Hormati pelanggan elite kami!"

Para pemuda itu langsung menciut dan buru-buru kembali ke barisan antrean reguler di bawah pengawasan ketat Dorma.


Malam yang Sempurna

Mommy Rangkat hanya tersenyum tipis melihat kejadian itu, merasa sangat terlindungi di Desa Rangkat. Beliau menyesap kembali es teh pinky-nya, sementara Ci Jingga kembali melayani beberapa warga yang penasaran ingin membeli kretek wangi buatannya bersamaan dengan jualan Pongky.

Bunda Yety dan Kakek Astoko yang duduk tak jauh dari mereka hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum bangga.

"Hebat ya, Desa Rangkat sekarang. Ada hantu, ada hansip wanita galak, ada sosialita, ada gadis kretek semok... semuanya akur gara-gara sempol tiga ribuan," bisik Kang Repot kepada Bang Ibay sambil lanjut membungkus pesanan.

Malam itu, kolaborasi antara kepolosan kiyowo Pongky, keahlian menggoreng Mba Aya, serta sentuhan kelas atas dari duo Mommy Rangkat dan Ci Jingga membuktikan bahwa di Desa Rangkat, perbedaan kasta dan alam sama sekali bukan penghalang untuk menciptakan sebuah malam Minggu yang manis, penuh tawa, dan tentunya... sangat aduhai.

Senin, 29 Juni 2026

Serbuan Pelanggan dan Penertiban Malam Minggu



Suasana di depan gerobak merah muda "Kedai Es Teh & Camilan Pongky" makin ramai dan riuh.
Kehadiran Emak Bawel yang berdiri tegak sambil memegang sapu lidi di depan kedai memastikan tidak ada pembeli yang membuang sampah sembarangan justru membuat suasana malam itu makin terasa komplit.

"Ayo, tertib! Yang antre jangan pada serakah, semua kebagian sempolnya Mba Aya!" teriak Emak Bawel sambil mengacungkan gagang sapunya ke arah kerumunan warga.

Melihat antrean yang mulai meluber hingga menutup jalan setapak desa, tiba-tiba terdengar suara peluit nyaring yang ditiup dengan penuh otoritas.
Prreeeeeeeettt!!

"Bubar-bubar! Eh maksudnya, merapat ke kiri! Jangan menutup jalur evakuasi warga!"

Muncul sesosok wanita tegap berseragam hijau lumut lengkap dengan baret miringnya.
Dia adalah Dorma, hansip wanita satu-satunya sekaligus yang paling disegani di Desa Rangkat.
Dengan langkah tegas dan tatapan mata yang tajam, Dorma langsung memasang tali pembatas dari rafia di sekitar area pos ronda untuk menertibkan barisan pembeli.

"Mas Hans, tolong dibantu itu barisan sebelah kanan disisir! Jangan sampai mengganggu kenyamanan Mommy Rangkat dan Ci Jingga yang sedang asyik jajan," perintah Dorma tegas kepada Mas Hans.

Mas Hans yang digertak oleh satu-satunya hansip wanita itu hanya bisa mengangguk siap grak.


Kedatangan Sesepuh dan Kritik Kuliner

Di tengah antrean yang mulai rapi berkat ketegasan Dorma, berjalanlah dua sosok sesepuh desa yang sangat dihormati. Mereka adalah Bunda Yety dan Kakek Astoko.

Bunda Yety tampil anggun dengan selendang batiknya, sementara Kakek Astoko berjalan perlahan menggunakan tongkat kayu kesayangannya sambil sesekali membetulkan letak kacamata tuanya.

"Walah... walah, ada keramaian apa ini di dekat pohon beringin? Kok baunya harum stroberi, biasanya kan bau kemenyan terbakar," ujar Bunda Yety sambil tersenyum ramah, menyapa Bang Ibay dan Kang Repot yang sedang sibuk membantu mengemas pesanan.

"Ini loh, Bun... Kedai jajanannya Pongky sama Mba Aya. Murah meriah, cuma tiga ribuan aja!" sahut Kang Repot penuh semangat.

Kakek Astoko mendekati gerobak pink Pongky, mengendus aroma dari wajan penggorengan Mba Aya, lalu mengetukkan tongkatnya ke tanah.

"Zaman purba dulu, hantu itu bikin orang jantungan, le. Sekarang kok malah jualan sempol? Coba, Kakek mau rasa seberapa hebatnya 'Sempol Ayam Kain Kafan' buatan kuntilanak zaman sekarang."

Mba Aya dengan takzim memberikan satu tusuk sempol hangat yang baru diangkat dari wajan kepada Kakek Astoko.

"Ini, Kakek... silakan dicicipi. Khusus Kakek, bumbunya saya buat tidak terlalu pedas... Hihihihi."

Kakek Astoko menerima sempol tersebut, meniupnya perlahan, lalu menggigitnya.

Suasana mendadak hening. Warga, Emak Bawel, bahkan Dorma si hansip pun menahan napas menunggu penilaian dari sesepuh terjujur di Desa Rangkat itu.
Nyam... nyam... nyam...

"Bagaimana, Kek?" tanya Pongky cemas, hingga ikatan pita kain flanel di kepalanya ikut bergoyang tegang.

Kakek Astoko terdiam sejenak, lalu matanya berbinar.

"Luar biasa! Daging ayamnya terasa gurih, lilitan telur dadar di luarnya empuk. Ini teksturnya pas buat gigi palsu Kakek yang sudah goyang. Juara!"


Kehangatan di Desa Rangkat

Mendengar pujian Kakek Astoko, Bunda Yety langsung ikut memesan.

"Kalau begitu, Bunda pesan Es Teh Manis Jumbo Pinky-nya ya, Pong. Biar segar dan awet muda seperti Mommy Rangkat!" ucap Bunda Yety sambil terkekeh, membuat Mommy Rangkat yang sedang minum es teh langsung melambaikan tangannya dengan elegan.

Malam kian larut, namun kehangatan di depan pos ronda Desa Rangkat justru makin memuncak.
Berkat pengamanan ketat dari Hansip Dorma, koordinasi Mas Hans, serta dukungan dari sesepuh seperti Bunda Yety dan Kakek Astoko, dagangan Pongky malam itu kembali habis terjual tanpa sisa.

Pongky melompat gembira di dalam gerobaknya. Dia memandang sekelilingnya dengan penuh rasa syukur. Dia mungkin hanya hantu tiruan dari kain flanel reject ITC Mangga Dua, tetapi di tempat ini, di antara manusia dan hantu lokal yang saling mendukung, Pongky telah menemukan rumah dan keluarga sejatinya.

Minggu, 28 Juni 2026

Rahasia di Balik Ikatan Kain Flanel: Kedatangan Para Sosialita Desa



Kesuksesan "Kedai Es Teh & Camilan Pongky" malam itu menyisakan tumpukan piring dan gelas kosong.
Setelah para warga pulang dan hantu lain kembali ke sarangnya untuk mencerna dupa vanilla, Pongky masih melompat-lompat kecil di sekitar gerobak, mengelap sisa tumpahan sirup stroberi.

Tiba-tiba, dari kegelapan pohon bambu di belakang pos ronda, muncul sesosok paruh baya dengan daster batik kelonggaran dan kerudung segitiga khasnya yang masih terpasang penuh di kepala. Tangan kanannya memegang sapu ijuk, sementara tangan kirinya berkacak pinggang.

Dia adalah Emak Bawel. Manusia paling ditakuti sekaligus paling di cintai se-Desa Rangkat.

"Pongky!" suara cempreng Emak Bawel membelah kesunyian malam, membuat ikatan pita di kepala Pongky langsung layu.

"Eh, Emak... Belum tidur, Mak? Ini Pongky lagi beres-beres kedai, rezeki hari ini lancar jaya, Mak!" sahut Pongky riang sambil menyodorkan sebungkus Sempol Ayam Kain Kafan yang sengaja dia sisakan.

Namun, wajah Emak Bawel tidak segarang biasanya. Ada guratan kesedihan yang ganjil di pelupuk matanya. Dia duduk di bangku panjang pos ronda, menghela napas panjang sampai kerudungnya ikut bergetar.

"Pong... Emak mau ngomong. Ini soal asal-usul kamu," kata Emak Bawel pelan.

Saking pelannya, Bang Ibay yang kebetulan lewat mau ke kamar mandi umum sampai ikut nguping di balik semak-semak.


Plot Twist di Jumat Kliwon

Pongky menghentikan aktivitasnya. Dia melompat mendekat, duduk bersandar kaku di sebelah Emak Bawel.

"Asal-usul apa, Mak? Kan semua orang tahu kalau Pongky ini anak Emak."

Emak Bawel menggeleng. Air matanya menetes, membasahi daster batiknya.

"Bukan, Pong. Kamu... kamu sebenarnya bukan anak kandung atau garis keturunan hantu Desa Rangkat. Kamu itu cuma anak angkat Emak."

Pongky tertegun. Kapas di hidungnya yang tinggal sebelah hampir saja lepas lagi.

"Maksud Emak?"

Emak Bawel memegang kedua pundak kain flanel pink milik Pongky dengan lembut.

"Dua puluh tahun lalu, waktu malam satu Suro, Emak lagi jalan-jalan ke ITC Mangga Dua. Di pojokan toko tekstil yang udah tutup, Emak nemu buntelan kain flanel pink. Waktu Emak buka, isinya kamu, Pong! Masih kecil, masih berbentuk guling mini tanpa ikatan pita. Kamu dibuang oleh pemilik pabrik boneka karena salah produksi; warnanya terlalu gonjreng dan gak lulus quality control untuk jadi hantu standar lokal."

Bang Ibay yang nguping di balik semak-semak langsung membekap mulutnya sendiri.

"Astagfirullah, Pongky ternyata hantu barang reject-an ITC!" batin Bang Ibay syok.

"Emak gak tega liat kamu telantar," lanjut Emak Bawel sambil sesenggukan.

"Makanya Emak bawa kamu pulang ke Desa Rangkat. Emak rawat kamu, Emak jahit kain flanelmu kalau robek, Emak kasih wewangian stroberi supaya kamu gak minder sama hantu-hantu lain yang baunya kemenyan. Biar warga gak heboh, Emak bikin cerita kalau kamu itu anak Emak dari perkawinan silang di kota."


Krisis Identitas & Serbuan Pelanggan VVIP

Mendengar kenyataan pahit itu, dunia Pongky terasa berputar. Dia mengalami krisis identitas instan.

"Jadi... Pongky bukan hantu asli? Pongky cuma... maskot gagal produksi?" bisik Pongky lirih.

"Pantesan dari dulu Pongky gak bisa tembus tembok, kalau melompat bunyinya boing-boing kayak mainan karet!"

Melihat anak angkatnya patah hati, Emak Bawel langsung berdiri dan menjewer pita di kepala Pongky dengan penuh kasih sayang.

"Heh, dengerin Emak! Mau kamu anak kandung, anak angkat, atau boneka sisa ekspor sekalipun, emangnya kenapa?! Kamu liat tuh gerobak sempol sama es teh kamu! Siapa yang bisa bikin warga Desa Rangkat seneng tiap malem? Kamu, Pong!"

Belum sempat Pongky membalas, suasana pos ronda mendadak heboh. Sebuah mobil mewah berhenti di pinggir jalan desa. Pintu terbuka, dan turunlah dua sosok yang langsung menjadi pusat perhatian.

Yang pertama adalah Mommy Rangkat. Beliau adalah sosialita nomor satu di desa, penampilannya selalu cantik, elegan, mengenakan dress sutra satin bergaya glamor, lengkap dengan kacamata hitam besar meskipun hari sudah malam.

Di sampingnya, berjalan mengekor sang putri cantiknya, Ci Jingga. Gadis ketek yang terkenal seantero kecamatan karena penampilannya yang semok, aduhai, dan selalu mengenakan pakaian ngepres badan yang sukses membuat bapak-bapak pos ronda mendadak salah fokus.

"Aduh, Mommy laper banget deh setelah arisan di kota. Katanya di sini ada kuliner yang lagi hits dan aesthetic itu ya?" ucap Mommy Rangkat dengan suara yang anggun dan berkelas.

"Iya, Mommy... itu gerobaknya yang warna pinky manja di depan pos ronda," sahut Ci Jingga dengan nada manja sambil membetulkan posisi tas branded milik Mommy Rangkat.

Langkah kakinya yang aduhai membuat Bang Ibay yang tadinya nguping langsung keluar dari semak-semak sambil pura-pura batuk.


Pelayanan Ekstra dari Mba Aya & Mas Hans

Melihat ada pelanggan VVIP, Mas Hans selaku manajer operasional kedai langsung sigap meniup peluitnya.

"Ayo, Pongky! Malah melamun! Pasang senyum pencerah kulitmu! Ada tamu agung!"

Mba Aya si Kuntilanak yang sedang asyik menggoreng sempol langsung melayangkan tawa melengking khasnya untuk menyambut mereka.

"Hihihihi... Selamat datang Mommy yang cantik jelita dan Ci Jingga yang aduhai... Mau pesan apa? Sempol Ayam Kain Kafan kami malam ini bumbunya meresap sampai ke dalam sukma... Hihihihi!"

Mommy Rangkat sedikit terkejut, tapi langsung menguasai diri dengan elegan.

"Oh, dear... kuntilanaknya ramah sekali ya. Saya pesan Es Teh Manis Jumbo Pinky satu, kurangi gulanya ya, saya sedang diet karbo. Dan sempolnya dua tusuk saja."

"Kalau aku mau Sostel Horor tapi Manis dong, Mba Aya... yang banyak saus sambalnya ya, biar hot kayak aku," timpal Ci Jingga sambil mengedipkan sebelah matanya genit, membuat Kang Repot yang baru datang mau ikutan ronda langsung tersandung tikar pos ronda karena saking terpesonanya.

"Aduh, repot ini mah... mata gak bisa merem liat yang semok begini," gumam Kang Repot sambil buru-buru membetulkan sarungnya.

Pongky yang melihat antusiasme para pelanggannya mendadak melupakan kesedihannya. Dengan cekatan, dia melompat ke arah termos es, menjepit gayung dengan sisa kain flanelnya, dan menuangkan sirup stroberi rahasia ke dalam cup jumbo.

"Ini pesanan Mommy Rangkat, dan ini Sostel hot untuk Ci Jingga," ujar Pongky dengan nada kiyowo-nya yang telah kembali.


Penerimaan yang Manis

Mommy Rangkat meminum Es Teh Jumbo Pinky itu dengan anggun. Matanya langsung berbinar.

"Oh my god, ini rasanya sophisticated banget! Segar, ada sensasi stroberi mewah. Kamu berbakat sekali, Pongky!"

"Iya, sostelnya juga endul pisan! Kenyal-kenyal manja!" puji Ci Jingga sambil sibuk mengunyah hingga membuat Bang Ibay dan Kang Repot kompak menelan ludah.

Bang Ibay akhirnya mendekat dan menepuk bahu Pongky.

"Tuh, lu denger sendiri kan, Pong? Mau lu anak angkat Emak Bawel, mau lu hantu beneran atau boneka reject ITC Mangga Dua, gak ada yang peduli! Yang penting lu itu kebanggaan Desa Rangkat!"

"Betul itu! Repot-repot amat mikirin asal-usul, yang penting kedai lu bawa berkah buat kita semua!" tambah Kang Repot penuh semangat.

Mba Aya terbang turun lalu merangkul Pongky tipis-tipis. "Udah jangan sedih lagi ya, adik pinky-ku yang imut. Yuk, kita lanjut jualan!"

Pongky memandang Emak Bawel yang tersenyum bangga di sudut pos ronda, lalu memandang Mas Hans, Bang Ibay, Kang Repot, Mba Aya, hingga pelanggan barunya, Mommy Rangkat dan Ci Jingga. Rasa hangat kembali memenuhi dadanya. Malam itu, di bawah sinar bulan purnama, Pongky sadar bahwa status "Anak Angkat" justru membuatnya menjadi makhluk paling disayangi di seluruh Desa Rangkat.

Babak Baru: Bisnis Kuliner & Serbuan Penggemar


Kehidupan Pongky di Desa Rangkat berubah total setelah statusnya naik menjadi hantu verified. Setiap malam, area sekitar pohon beringin dekat pos ronda yang dulunya sepi dan bikin bulu kuduk berdiri, kini disulap jadi mirip pasar malam. Bedanya, yang antre bukan mau naik komidi putar, melainkan mau selfie bareng Pongky.

Namun, dasar Pongky berjiwa kreatif, dia tidak mau cuma modal tampang aesthetic dan goyang TikTok saja.

"Mbak Aya," panggil Pongky suatu sore, saat Aya si Kunti baru saja bangun tidur dan mengumpat di balik rimbunnya pohon beringin.

"Kita gak bisa gini terus. Masa hantu cuma ngandelin uang tiket masuk? Kita harus punya passive income!"
Mbak Aya yang sedang menyisir rambut panjangnya yang kusut menoleh.

"Maksudmu piye, Pongky? Kita mau buka jasa laundry kain kafan?"

"Bukan, Mbak! Kuliner!" seru Pongky antusias (sambil melompat tiga kali karena lupa kalau kakinya masih diikat).

"Di kota itu lagi viral takjil dan jajanan kaki lima. Kebetulan, aku punya resep rahasia yang bakal bikin warga Desa Rangkat ketagihan."

Peluncuran "Kedai Mistis Kiyowo"

Dua hari kemudian, sebuah gerobak kayu dicat merah muda terparkir rapi di dekat pos ronda. Di atasnya terpampang spanduk neon buatan tangan yang ditulis pakai cat fosfor: "Kedai Es Teh & Camilan Pongky".

Menunya sangat unik dan disesuaikan dengan kearifan lokal yang sudah dimodifikasi:

Es Teh Manis Jumbo Pinky (Pakai sirup stroberi rahasia racikan Pongky).

Sempol Ayam Kain Kafan (Sempol ayam jumbo yang dililit telur dadar sampai mirip pocong).

Sostel (Sosis Telur) Horor tapi Manis.

Harganya sengaja dibuat merakyat, cuma Rp 3.000-an per porsi. Mas Hans yang bertindak sebagai manajer operasional (sekaligus seksi keamanan) langsung meniup peluit tanda kedai dibuka.

"Ayo-ayo warga Rangkat! Silakan dicoba! Sempolnya empuk, es tehnya manis, penjualnya... ya gitu deh, agak merah muda!" teriak Mas Hans memakai pengeras suara masjid.

Bang Ibay dan Kang Repot yang awalnya skeptis mencoba menjadi pembeli pertama.

Bang Ibay mengambil satu tusuk Sempol Ayam Kain Kafan dan mencelupkannya ke saus sambal ekstra pedas.
Nyam...

"Demi apa, Hans?! Ini sempolnya kenyal banget, daging ayamnya berasa, gak cuma tepung doang!" Kang Repot heboh sampai gaple di tangannya berhamburan.

"Ho-oh! Terus ini Es Teh Jumbo Pinky-nya seger bener! Manisnya pas, gak bikin batuk. Cocok banget buat nemenin ronda," puji Bang Ibay sambil mengacungkan jempol ke arah Pongky.


Chaos di Malam Minggu

Kelezatan camilan racikan Pongky menyebar secepat gosip di grup WhatsApp ibu-ibu PKK. Memasuki malam Minggu, antrean di Kedai Pongky sudah mengular sampai ke perbatasan desa sebelah.

Pongky mulai kewalahan. Melayani pembeli sambil tangan terikat di dalam kain kafan ternyata membutuhkan keahlian tingkat dewa. Dia harus melompat ke sana kemari untuk mengambil es batu, menuangkan teh, dan menggoreng sempol.

"Aduh, aduh! Tolong, Mba Aya! Sempolnya gosong itu!" teriak Pongky panik saat melihat wajan mulai berasap.

Melihat Pongky kesusahan, Mba Aya si Kunti tidak tinggal diam. Dia memutuskan untuk ikut turun tangan membantu jalannya bisnis.

Mba Aya si Kunti, dengan wajah tertutup rambut hitam panjang, langsung mengambil alih tugas mengocok telur dan menggoreng sempol.

Warga sempat menjerit ketakutan melihat makhluk seram dengan wajah yg tertutupi rambut hitam panjang memegang sodet, tapi begitu mencium aroma sempol yang harum, ketakutan mereka kalah sama rasa lapar.

Mbak Aya si Kuntilanak juga bertugas di bagian delivery order. Dengan kemampuan terbang dan tawanya yang melengking, dia mengantarkan pesanan es teh jumbo ke rumah-rumah warga.

"Hihihihi... Ini pesanan Es Teh Jumbo-nya, Bu Ndut... Totalnya sembilan ribu rupiah... Hihihihi!"

Warga yang menerima pesanan awalnya gemetaran, tapi lama-lama terbiasa.

 "Makasih ya, Mbak Aya. Tolong es batunya besok-besok banyakan ya!" sahut seorang warga dari balik jendela.


Hantu yang Menginspirasi

Malam itu, Kedai Pogky sukses besar. Dagangan mereka ludes tak tersisa dalam waktu dua jam. Keuntungan finansialnya dibagi rata: sebagian untuk beli dupa wangi impor rasa vanilla untuk para hantu, dan sebagian lagi disumbangkan ke kas desa untuk memperbaiki lampu jalanan yang sering mati.

Sambil duduk melepas lelah di pos ronda—menikmati sisa Es Teh Jumbo Pinky bersama Mas Hans, Bang Ibay, Mbak Aya si Kunti, dan Kang Repot.

Pongky tersenyum puas (kali ini beneran kelihatan karena kapas hidungnya copot satu akibat terlalu bersemangat menggoreng).

Desa Rangkat kini punya warna baru. Bukan lagi desa yang ditakuti karena keangkerannya, melainkan desa yang dirindukan karena keramahannya, kulinernya yang murah meriah, dan tentunya... karena ada pocong paling fashionable se-kabupaten yang siap melayani dengan senyuman.

Sabtu, 27 Juni 2026

Pongky Ci Pocong Pinky



Pulang Kampung Ter-Kiyowo


Malam Jumat Kliwon di Desa Rangkat biasanya mencekam. Angin berdesir mistis, burung uncuing bersahutan, dan warga meringkuk di dalam rumah. Namun, atmosfer sakral itu mendadak ambyar malam ini.
Dari kejauhan, alih-alih bayangan putih kusam yang melompat menyeramkan, muncul sesosok makhluk bernuansa shocking pink.
Boing... boing... boing...
Itu Pongky. Pocong milenial asli kelahiran Desa Rangkat yang baru saja merantau puluhan tahun di Jakarta.
Pongky memutuskan mudik karena rindu suasana desa. Tapi, Pongky yang sekarang bukan lagi Pongky yang dulu. Kain kafannya bukan lagi kafan pink polos, melainkan kain flanel custom berwarna merah muda pastel, lengkap dengan ikatan kepala berbentuk pita double-knot ala kelinci. Jangan lupakan aroma tubuhnya—bukan bau tanah atau kamboja, melainkan wangi strawberry boba.


Insiden di Pos Ronda


Tujuan pertama Pongky adalah pos ronda, tempat nongkrong favoritnya dulu bersama Mba Kunti. Di sana, tampak Mas Hans, Kang Repot, dan Bang Ibay sedang main gaple sambil ngopi.
Melihat ada kesempatan untuk bernostalgia, Pongky berinisiatif memberikan kejutan. Dia melompat mendekat, lalu berdiri tepat di belakang Bang Ibay yang sedang menghitung balak.
"Permisi, Bang... Mau nanya jalan ke rumah Mak Bawel lewat mana ya? Aku agak lost nih," bisik Pongky dengan nada manja yang dibuat-buat.
Bang Ibay menoleh. Bukannya menjerit histeris atau pingsan seperti korban pocong pada umumnya, Bang Ibay malah mengucek mata, lalu menatap Pongky dari ujung ikatan kepala sampai ujung simpul kaki.
"Astagfirullah... Hans! Lu liat kagak? Ini mata gua yang katarak apa emang ada permen pencerah kulit raksasa bisa ngomong?" bisik Bang Ibay heboh.
Mas Hans langsung berdiri, mengambil senter, dan menyorot wajah Pongky. "Pocong? Kamu ini makhluk halus apa maskot toko kosmetik keliling, heh?!"
Pongky cemberut (meski tidak terlalu kelihatan karena terhalang kapas di hidung). "Ih, Mas Hans sombong deh! Ini aku, Pongky! Anaknya Emak Bawel! Masa lupa sih? Aku baru pulang merantau dari Citayam Fashion Week!"


Reuni Hantu Lokal


Mendengar keributan, hantu senior Desa Rangkat pun bermunculan dari pohon beringin sebelah pos ronda. Ada Kuntilanak bernama Aya.
"Ya ampun, Pongky?!" Mbak Aya tertawa melengking, tapi kali ini tawanya murni karena geli, bukan mau meneror. "Kain kafan kamu kok bisa sewarna sama lipstik aku? Kamu mau nakutin warga apa mau ikut audisi girlband?"
"Duh, Mbak Aya, please deh. Ini namanya personal branding," sahut Pongky sambil mengibaskan sisa kain di bagian bahunya. "Di kota besar, kita harus tampil beda supaya dapet engagement. Kalau putih mulu, ntar ketuker sama sprei hotel."
Mba Aya si kunti cuma bisa geleng-geleng kepala. "Zaman makin edan. Dulu syarat jadi hantu itu harus bikin merinding, sekarang harus bikin gemas. Gimana harga diri kita sebagai mahluk supranatural, Pong?"
"Ah, Mba Aya kuno! Di Jakarta, hantu yang aesthetic kayak aku gini malah diajak kolaborasi bareng influencer tahu!" balas Pongky bangga.


Berkah Pocong Pinky


Meski awalnya jadi bahan tertawaan, kehadiran Pongky si Pocong Pinky malah membawa berkah bagi Desa Rangkat.
Sejak malam itu, Desa Rangkat tidak lagi mencekam. Anak-anak kecil yang biasanya takut keluar malam justru sengaja begadang di teras rumah sambil membawa ponsel, menunggu Pongky lewat untuk diajak bikin video TikTok bareng.
Bahkan, saking populernya, Mas Hans melihat ini sebagai peluang bisnis.


Pengumuman Desa Rangkat:
Mulai minggu depan, dibuka objek wisata malam: 'Foto Estetik Bareng Pongky si Pocong Pinky'. Tiket masuk: Dua bungkus dupa wangi rasa vanilla.
Pongky pun bahagia. Meskipun gagal menjadi hantu yang menyeramkan, setidaknya dia berhasil menjadi pocong pertama di dunia yang punya status selalu terverified di hati warga Desa Rangkat.