Minggu, 05 Juli 2026

Harta, Tahta dan Pocong Merah Muda




Keesokan harinya, kesuksesan "Divisi Kurir Gaib" ternyata menciptakan tren baru yang luar biasa merepotkan.

Aplikasi Rangkat-Food bukan lagi jebol, tapi sudah seperti bendungan jebol di musim hujan.

​Mas Hans sampai harus merendam ponsel bututnya di dalam mangkuk es batu karena mesinnya terus-menerus mengepulkan asap tipis.

​"Dorma! Ini gimana?! Orderan naik 500%!" teriak Mas Hans, suaranya sudah naik dua oktav mirip penyanyi seriosa.


"Tapi ada masalah baru. Konsumen sekarang makin tuman!"

​Hansip Dorma yang sedang sibuk menghitung setoran uang lecek di atas meja pos ronda langsung mendongak. 

"Masalah apa lagi? Kurir kita kurang? Itu di kuburan sebelah baru ada yang kelar masa magang."

​"Bukan kurang, tapi permintaannya makin aneh-aneh!" Mas Hans menunjukkan layar ponselnya yang bergetar tanpa henti.

​Catatan Pesanan #112: Sempol isi keju, wajib diantar sama Genderuwo yang kemarin. Tolong suruh dia pakai apron motif maid biar makin gemas. Kalau tidak, saya kasih bintang dua.

Catatan Pesanan #115: Pocongnya kalau antar jangan lompat lewat pintu depan ya, lewat jendela lantai dua langsung. Kamar saya di atas, saya malas turun tangga. Makasih, Kak. UwU.

​Mba Acik yang baru datang membawa satu baskom besar adonan sempol langsung lemas.


"Aduh, Mba Dorma... itu si Gendru (Genderuwo gudang tua) tadi subuh nangis di pojokan pohon beringin. Dia gak mau narik hari ini."

​"Lho, kenapa? Kurang sajen?" tanya Dorma heran.

​"Bukan, Mba. Kemarin pas dia anter orderan ke rumah Bu RT, dia dipaksa ikutan challenge TikTok 'Ayam Bebek Angsa' sama anak-anak siskamling. Katanya harga dirinya sebagai makhluk halus yang ditakuti tujuh turunan langsung anjlok ke kerak bumi," keluh Mba Acik sambil mengelap keringat dinginnya yang sewarna kuah bakso.

Belum sempat Dorma menjawab, mendadak terdengar suara gaduh dari luar pos ronda.

Brak! Brak! Brak!

​Sesosok Pocong melompat masuk dengan kecepatan penuh, lalu mengerem mendadak menggunakan hidungnya di lantai hingga mengeluarkan bunyi Sreeeettt! Pita pink kembar di kepalanya sudah miring ke kiri, dan kain kafannya penuh dengan coretan spidol hitam.

​"Kenapa kamu, Pong? Habis dikejar anjing?" tanya Dorma panik.

​Pocong itu menggelengkan kepalanya yang terikat kencang dengan dramatis. 

Karena tidak bisa bicara, dia menggunakan bahasa isyarat tubuh yang luar biasa heboh.

Dia melompat ke kanan, memutar badannya, lalu menunjuk-nunjuk tulisan di kain kafannya.

​Mas Hans mendekat untuk membaca tulisan tersebut.

"'Harta, Tahta, Pocong Merah Muda'. Lah? Kamu dicoret-coret sama fans?!"

​Pocong itu mengangguk pasrah, lalu menjatuhkan dirinya ke lantai, pura-pura pingsan karena trauma psikologis akibat dikejar-kejar ibu-ibu majelis taklim yang gemas ingin menjadikannya objek swafoto.

​"Ini tidak bisa dibiarkan!" Dorma memukul meja pos ronda dengan pentungannya. 

Gubrak! 

"Makhluk halus desa kita ini aset UMKM, bukan badut sirkus! Kita harus lakukan evaluasi standar operasional prosedur (SOP)!"


​Sore itu juga, diadakan rapat pleno darurat Divisi Kurir Gaib.

Suasana pos ronda kembali mencekam, namun kali ini bercampur dengan aroma minyak angin dan parfum stroberi murahan karena para Kuntilanak baru saja memakai hand body biar kulit pucat mereka terlihat glowing di depan kamera pelanggan.

​"Dengar semuanya!" Dorma berdiri di atas kursi, memegang peluit dengan gagah. 

"Mulai jam ini, kita berlakukan SOP baru untuk menjaga keselamatan kerja dan kesehatan mental kalian!"

​Dorma menuliskan poin-poin di papan tulis pos ronda:

​Gendru (Genderuwo): Dilarang keras menuruti permintaan memakai baju maid atau kostum anime apa pun. Kamu adalah maskor gahar, bukan cosplayer!

​Para Kuntilanak: Jika ada pelanggan yang meminta kalian tertawa melengking hanya untuk konten ringtone HP mereka, kenakan biaya tambahan Rp 5.000 per lima detik. Jangan mau rugi bandar!

​Pocong: Mulai besok, kamu luar biasa dilarang lewat jendela lantai dua. Kalau terjepit di tralis, Mas Hans malas ngolesin minyak goreng buat ngeluarin kamu lagi!

​"Ada pertanyaan?!" seru Dorma.

​Semua makhluk halus itu saling berpandangan.

Tiba-tiba, salah satu Kuntilanak pohon mangga mengangkat tangannya yang berkuku hitam panjang dengan malu-malu.

​"Anu, Mba Dorma... kalau ada pelanggan yang ngasih tips-nya bukan uang, tapi nomor WhatsApp... itu boleh diterima gak? Kemarin ada mas-mas kosan yang bilang katanya saya 'tipe dia banget' karena sama-sama suka begadang dan bermata panda..."

​Pongky yang sejak tadi menyimak langsung terjungkal dari meja, sementara Mba Acik spontan mengulek sambalnya terlalu kencang sampai cobek batunya retak.

​"TIDAK BOLEH!" teriak Dorma, Mas Hans, dan Mba Acik serempak.

"Kita ini layanan pesan antar makanan, bukan aplikasi cari jodoh beda dimensi!"

Sabtu, 04 Juli 2026

Kurir Ghaib Kedai Pongky




Keberhasilan rating bintang lima malam itu rupanya berbuntut panjang.

Keesokan harinya, aplikasi Rangkat-Food milik Mas Hans kembali jebol.

Namun, ada yang aneh dengan kolom pesanan kali ini.


​"Waduh, Dorma! Cilaka dua belas ini!" teriak Mas Hans panik, membuat Pongky yang sedang asyik boing-boing langsung mendarat darurat di atas meja.


​Hansip Dorma yang sedang memoles ulang lipstik merah menyalanya langsung menoleh ketus.

"Ada apa lagi, Mas Hans? Ada orderan dari penguasa Laut Selatan minta diantar ke pantai?"


​"Bukan! Ini... lihat catatannya!" Mas Hans menyodorkan ponsel bututnya.

"Ada 50 orderan Sempol Ayam yang masuk serentak, tapi semua pembeli menulis catatan yang sama: 'Wajib diantar oleh Kuntilanak Kuncir Dua Anime. Kalau yang antar manusia biasa, saya kasih bintang satu!'"


​Mba Acik yang sedang khusyuk mengulek sambal horor langsung tersentak. Rambut panjangnya sempat berdiri tegak saking kagetnya.

"Aduh, Mba Dorma... Acik mendadak jadi influencer ojol ya? Tapi tangan Acik cuma dua, mana bisa antar 50 tempat sekaligus? Nanti kalau Acik kelelahan, muka Acik bisa makin pucat, dikira kurang darah, bukan kurang sajen."


​Dorma terdiam sejenak, otaknya yang biasa dipakai untuk strategi ronda malam langsung berputar cepat. Dipandanginya Mba Acik, lalu pandangannya beralih ke arah pohon beringin tua di pojok gang. Sebuah ide brilian bin nekat mendadak melintas.


​"Acik, kamu punya grup WhatsApp sesama penghuni pohon atau perempatan gak?" tanya Dorma serius.


​Mba Acik mengerjukan dahinya. "Ada, Mba. Nama grupnya 'Ghibah Alam Sebelah (No Manusia)'. Kenapa, Mba?"


​"Undang mereka semua ke pos ronda sekarang! Kita bikin Divisi Kurir Gaib Rangkat-Food!" seru Dorma bersemangat sambil meniup peluitnya. Prreeeeeettt!


​Setengah jam kemudian, pos ronda Desa Rangkat mendadak berhawa sedingin kulkas dua pintu. Di hadapan Hansip Dorma, sudah berbaris rapi tiga kuntilanak pohon mangga, dua genderuwo dari gudang tua, dan satu pocong lompat yang tersesat.


​Dengan ketegasan layaknya jenderal perang, Hansip Dorma memberikan pengarahan.

"Dengar semuanya! Hari ini kalian kerja paruh waktu di Kedai Pongky. Tugas kalian cuma antar makanan. Ingat aturan mainnya: dilarang menakut-nakuti pelanggan, dilarang minta tips menyan, dan yang paling penting..."


​Dorma mengeluarkan sekardus ikat rambut pink cadangan milik Pongky. 

"...kalian semua harus dikuncir dua biar estetik dan ramah lingkungan!"


​Malam itu, warga Desa Rangkat dibuat terheran-heran sekaligus gemas. Tidak ada lagi suasana seram. Di jalanan desa, tampak pocong melompat-lompat lincah membawa kantong plastik makanan dengan kepala dihiasi pita pink kembar. Di sudut lain, ada genderuwo setinggi dua meter yang dengan sopan mengetuk pintu rumah warga,

"Permisi Kak, Go-Ghost... eh, Rangkat-Food datang. Jangan lupa bintang limanya ya, Kak, UwU..." sambil memberikan pose finger heart dengan jarinya yang sebesar pisang tanduk.


​Desa Rangkat sukses besar. Kedai Pongky resmi menjadi pelopor kuliner "Pesugihan Legal dan Halal", membuktikan bahwa di tangan Hansip Dorma, hantu pun bisa diberdayakan demi mendongkrak UMKM desa.

Jumat, 03 Juli 2026

Aplikasi Rangkat Food dan Pesanan Online Kedai Pongky




Ketenaran nama baru Mba Acik rupanya tidak hanya berhenti di area pos ronda Desa Rangkat saja.

Sejak papan menu diganti dengan tulisan estetik bin seksi milik Ci Jingga, pesanan online lewat aplikasi Rangkat-Food mendadak membeludak seperti air bah. 

Ponsel butut Mas Hans tidak berhenti bergetar dan berbunyi,

"Ada pesanan masuk! Ada pesanan masuk!" dengan suara cempreng yang mirip suara ayam ketawa.

"Waduh, Pong! Acik! Ini orderan Sempol Ayam Kain Kafan sama Sostel Horor melonjak tajam! Mayoritas catatannya aneh-aneh lagi. Ada yang minta dibungkus pakai daun pisang yang dipetik menghadap utara, ada yang minta dikirim cepat karena buat sesajen tugas kuliah!" seru Mas Hans panik sambil garuk-garuk kepala.

Di sinilah peran sang srikandi keamanan desa kita, Hansip Dorma.
Sebagai satu-satunya hansip perempuan di Desa Rangkat yang terkenal galak, tegas, tapi berhati selembut sutra (kalau tanggal muda), Dorma langsung menyingsingkan lengan seragam hijaunya. 

Dengan peluit perak yang selalu mengalung di leher dan lipstik merah menyala yang tetap on-point meski keringatan, Dorma siap memimpin divisi Delivery Order.


Dilema Kurir Online: Ketika GPS Menyesatkan

"Tenang, Mas Hans! Biar saya yang atur rute pengiriman. Pokoknya demi kelancaran omset Kedai Pongky, semua pesanan akan sampai dalam keadaan hangat dan higienis!" tegas Hansip Dorma sambil meniup peluitnya.

Prreeeeeettt!

Mba Acik yang sedang sibuk membolak-balik sempol di wajan panas langsung menengok.

"Mba Dorma sayang... ini ada pesanan ke alamat Jalan Kuburan Tua Nomor 4, atas nama 'Mas Tumbal'. Katanya sambalnya minta dipisah, takut mules pas malam jumat kliwon. Hihihihi..."

Dorma melihat ponsel pintar yang dipegang Pongky.
Pongky melompat boing-boing sambil menunjuk layar yang menampilkan peta digital.
Masalahnya, titik koordinatnya malah berada di tengah-tengah rawa-rawa kosong.

"Aduh, ini aplikasi Rangkat-Food penunjuk arahnya suka ngaco! Masa kita disuruh lewat pohon beringin kembar lalu belok kiri di dimensi lain?" gerutu Dorma kesal.

 "Acik, kamu kan hafal area situ. Kamu ikut saya narik ojek online sore ini. Kamu bonceng di belakang!"

Mba Acik sempat ragu.

"Tapi Mba Dorma... rambut aku panjang banget, nanti kalau kena angin pasar malah nutupin muka Mba Dorma yang lagi nyetir gimana? Nanti kita nabrak gerobak bakso..."

"Tenang! Saya punya solusinya!"

Dengan cekatan, Hansip Dorma mengambil ikat rambut pink cadangan milik Pongky. Rambut kuntilanak Mba Acik yang panjang menjuntai itu langsung dikuncir dua dengan rapi oleh Dorma. 

Penampilan Mba Acik seketika berubah drastis: dari kuntilanak seram penunggu pohon, menjadi kuntilanak bergaya anime Jepang yang menggemaskan, lengkap dengan gaun putihnya yang berkibar.


Petualangan COD (Cash on Delivery) yang Bikin Elus Dada

Sore itu, jalanan Desa Rangkat disuguhi pemandangan paling absurd abad ini: Hansip Dorma mengendarai motor bebek dinasnya dengan kecepatan tinggi, sementara di belakangnya bonceng Mba Acik yang kuncir duanya melambai-lambai ditiup angin sambil memeluk erat thermal bag khusus berisi sempol.

Prreeeeeettt! Prreeeeeeettt! Dorma tiada hentinya meniup peluit sepanjang jalan untuk membuka jalur.

"Minggir, minggir! Kuntilanak mau lewat bawa pesanan pesugihan modern! Jangan dihalangi!"

Tujuan pertama adalah rumah Pak RT yang memesan Mochi Pocong Cokelat Lumer.
Begitu motor berhenti di depan pagar, Mba Acik dengan ramah melayang turun sedikit (biar cepat) lalu mengetuk pintu.

Tok... tok... tok...

"Pak RT... Rangkat-Food datang... Hihihihi... Paket..." panggil Mba Acik dengan suara melengking lembut khasnya.

Pak RT yang baru saja membuka pintu langsung tersedak ludah sendiri melihat sosok putih pucat berkuncir dua pink berdiri di terasnya.

"A-A-Astagfirullah! Kuntilanak sekarang nyambi jadi kurir?!"

"Eh, Pak RT, jangan sembarangan ya! Ini Mba Acik, ikon kuliner baru kita! Tolong uang pas ya Pak, Rp 15.000, jangan pakai daun kering, kami gak terima mata uang gaib!" sahut Hansip Dorma dari atas motor dengan galak sambil berkacak pinggang.

Pak RT dengan tangan gemetar menyerahkan selembar uang dua puluh ribuan.

"Am-ambil... ambil aja kembaliannya, Mba..."

Mba Acik langsung girang.

"Wah, makasih Pak RT! Semoga rezekinya lancar dan tidak dihantui rasa bersalah ya... Hihihihi!"


Review Bintang Lima dan Sukses Besar

Setelah berputar-putar menerjang macetnya gang sempit Desa Rangkat, seluruh pesanan online akhirnya ludes terjual.
Sore pun berganti malam yang hangat.
Di pos ronda, Pongky menyambut kepulangan tim kurir tangguh itu dengan goyangan boing-boing paling heboh.

"Gimana, Dorma? Sukses?" tanya Emak Bawel yang rupanya masih nongkrong di sana bersama Mommy Rangkat dan Ci Jingga.

"Sukses besar, Mak! Lihat ini, rating Kedai Pongky di aplikasi langsung naik jadi bintang lima!" ujar Hansip Dorma bangga sambil memperlihatkan layar ponselnya.

Ci Jingga membaca salah satu ulasan dari pelanggan dengan tawa renyahnya yang manja,

"Ih, coba lihat ini komentarnya: 'Sempolnya enak banget, gurih. Kurirnya ramah banget, mukanya agak pucat tapi kuncir rambut pinknya lucu. Pas pulang malah didoain biar gak dihantui mantan. Bintang lima pokoknya!'"

Semua orang di pos ronda tertawa terpingkal-pingkal. Mba Acik tersipu malu, menutupi wajahnya dengan ujung kain kafan sempol yang belum terpakai.
Malam itu, bisnis kuliner kolaborasi makhluk halus dan warga Rangkat tidak hanya berhasil meluruskan sebuah nama, tetapi juga membuktikan bahwa asal kita kreatif dan punya hansip perempuan yang galaknya melebihi kobra, tidak ada tantangan bisnis yang tidak bisa dilewati.

Kamis, 02 Juli 2026

Pelurusan Nama dan Rebranding Mba Kunti




Suasana sore di pos ronda mendadak agak canggung. Saat Pongky sedang asyik menata Mochi Pocong Cokelat Lumer di etalase gerobak pinknya, Emak Bawel tiba-tiba datang sambil berkacak pinggang, menatap tajam ke arah papan menu dan Mas Hans yang sedang sibuk mencatat pesanan.

"Heh, Hans! Ibay! Repot! Kalian ini gimana sih, dari kemarin panggil Mba Kunti kok 'Aya, Aya' melulu!" omel Emak Bawel sambil mengetukkan gagang sapu lidinya ke tanah.

"Nama asli dia itu Acik! Kuntilanak asli Rangkat, bukan kuntilanak pindahan dari kota!"

Bang Ibay langsung menepuk jidatnya sendiri.

"Astagfirullah, iya! Maaf, Mak! Efek kebanyakan begadang ronda sama liat yang semok-semok, ingatan saya jadi agak eror. Maaf ya, Mba Acik!"

Mba Acik si Kuntilanak yang sedang bersiap di depan wajan sempol langsung tertawa melengking, tapi kali ini terdengar agak malu-malu.

"Hihihihi... Nggak apa-apa, Bang Ibay. Nama 'Acik' memang terdengar terlalu lokal ya, makanya kemarin waktu Mas Hans salah panggil, aku diem aja... Hihihihi!"

"Oh, dear... Nama 'Acik' itu justru sangat otentik dan punya karakter kuat!" timpal Mommy Rangkat yang baru saja turun dari mobilnya dengan anggun.

Beliau membetulkan posisi kacamata hitamnya.

"Jingga, tolong ambilkan spidol fosfor baru. Kita harus ganti nama di papan menu gerobak Pongky biar branding-nya makin solid."

Ci Jingga—yang sore itu kembali tampil aduhai dengan kebaya janggan yang memikat—dengan cekatan menyerahkan spidol sambil mengembuskan asap kretek cengkehya yang wangi.

"Ini, Mommy... sekalian biar aku yang tulis ulang menunya biar tulisannya kelihatan lebih seksi dan menggoda."

Dengan tulisan tangan Ci Jingga yang rapi dan estetik, papan menu di samping gerobak kayu dicat merah muda itu kini tertulis jelas:

"Sempol Ayam Kain Kafan - Resep Rahasia Mba Acik & Pongky (Rp 3.000)".


Misi Belanja Jilid Dua: Pongky, Mba Acik, dan Si Hansip Galak

Setelah urusan nama selesai, Pongky menyadari stok ubi ungu dan bunga telang untuk menu Es Bunga Telang "Magic Lavender" mereka mulai menipis. Karena kapok dikerubuti ibu-ibu pasar subuh sendirian sampai dompetnya harus dirogoh orang lain, kali ini Pongky mengajak Mba Acik untuk menemaninya belanja.

Tentu saja, perjalanan dua mahluk halus (yang satu asli, yang satu hasil reject pabrik) ke pasar tidak pernah biasa-biasa saja.
Hansip Dorma dengan setia mengawal di depan, membunyikan peluitnya setiap kali ada warga yang berkerumun menghalangi jalan.

Prreeeeeettt!!

"Kasih jalan! Tim produksi Kedai Pongky dan Mba Acik mau lewat! Jangan ada yang berani nyubit pita pink Pongky atau narik rambut Mba Acik!" teriak Dorma tegas, membuat area los pasar sayur langsung rapi seketika.

Kelucuan kembali terjadi di lapak Wak Iyem. Kali ini, Mba Acik berniat membantu Pongky memilih kelapa muda.
Namun, karena tangannya yang putih pucat dengan kuku panjang menjuntai, Wak Iyem sempat kaget setengah mati.

"Aduh, Mba Acik! Lu kalau mau ngambil kelapa bilang-bilang napa, kuku lu hampir aja bikin kelapanya bolong duluan!" seru Wak Iyem sambil mengelus dada.

"Hihihi... Maaf, Wak Iyem. Ini sekalian saya bantu kupas pakai kuku saya ya, biar Pongky gak repot ngebawanya lagi," sahut Mba Acik ramah.

Pongky yang berdiri di sampingnya hanya bisa melompat-lompat gembira boing-boing sambil menyodorkan keranjang rotan pinknya.

"Wak Iyem, sekalian ubi ungunya satu kilo lagi ya. Kemarin laku keras diborong sama teman-teman arisannya Mommy Rangkat!"


Sore yang Meriah di Kedai Pongky

Sepulang dari pasar, Kedai Pongky langsung diserbu pelanggan bahkan sebelum matahari benar-benar tenggelam. 

Mas Hans dengan sigap mengatur meja VVIP untuk Mommy Rangkat dan Ci Jingga, sementara Kang Repot bertugas menata es batu.

Mba Acik dengan nama barunya yang sudah diluruskan tampil makin percaya diri.
Di depan wajan panas, dia menggoreng Sempol Ayam Kain Kafan dengan sangat lihai.
Lilitan telur dadarnya digoreng keemasan, menghasilkan bentuk pocong mini yang sangat rapi dan menggugah selera.

"Ini pesanan khusus untuk Ci Jingga, Sostel Horor tapi Manis ekstra saus pedas," ujar Mba Acik sambil menyodorkan piring dengan anggun menggunakan ujung kukunya.

"Wah, makasih banyak ya, Mba Acik sayang. Makin sukses deh bisnis kita," ucap Ci Jingga manja sambil menerima pesanan tersebut, lalu duduk santai mendampingi Mommy Rangkat yang sedang asyik menikmati kesegaran Es Magic Lavender ungu miliknya.

Di balik gerobak pinknya, Pongky tersenyum lebar. Meskipun nama Mba Acik sempat tertukar dan asal-usul Pongky sempat dipertanyakan, malam itu Pongky tahu bahwa bersama Mba Acik, Emak Bawel, dan seluruh warga Desa Rangkat, "Kedai Pongky" miliknya akan selalu menjadi tempat yang paling dirindukan di desa ini.

Rabu, 01 Juli 2026

Pongky Go To Pasar: Misi Berburu Bahan Menu Baru




Pagi hari setelah malam Minggu yang super sibuk, gerobak pink "Kedai Es Teh & Camilan Pongky" terparkir tenang. Namun, sang pemilik kedai justru sedang bersiap-siap menghadapi medan pertempuran yang sesungguhnya: Pasar Subuh Desa Rangkat.

Demi mewujudkan ide kolaborasi kelas atas bersama Mommy Rangkat dan Ci Jingga, Pongky berniat meluncurkan menu baru yang jauh lebih unik, estetik, dan tentu saja tetap ramah di kantong dengan harga khasnya, yaitu Rp 3.000-an.

"Pong! Inget ya, kalau nawar bumbu dapur ke Wak Iyem itu harus pakai perasaan, jangan langsung nawar sadis, ntar kamu dilempar pakai timbangan!" teriak Emak Bawel dari teras rumah sambil mengacungkan ulekan batu andalannya sebagai peringatan.

"Siap, Emak Sayang! Pongky berangkat dulu, boing... boing... boing..." sahut Pongky riang sambil melompat lincah. Pagi itu,

Pongky tampil sangat modis dengan kain flanel merah muda pastelnya, lengkap dengan keranjang belanja anyaman rotan berwarna pink yang dikalungkan di ikatan pita kepalanya.


Kehebohan Si Pocong Pinky di Lapak Sayur

Kehadiran Pongky di pasar subuh langsung membuat suasana yang tadinya tegang karena harga cabai naik, mendadak penuh tawa.
Bagaimana tidak? Sesosok pocong merah muda dengan wangi strawberry boba melompat-lompat di antara beceknya lantai pasar sambil menenteng keranjang belanja.

Masalah pertama muncul saat Pongky tiba di lapak sayur Wak Iyem. Karena tangannya terikat kencang di dalam kain flanel, Pongky kesulitan untuk mengambil dan memilih bahan makanan sendiri.

"Wak Iyem yang cantik jelita... tolong ambilin ubi ungu yang itu dong, Wak. Iya, yang warnanya aesthetic kayak senja di Jakarta," pinta Pongky sambil menunjuk-nunjuk menggunakan ujung ikatan kepalanya yang digoyang-goyangkan ke depan dan ke belakang.

Wak Iyem terpingkal-pingkal melihat kelakuan Pongky.

"Aduh Pong, Pong! Lu mau belanja apa mau ngajakin gua main sundamanda? Sini gua masukin ke keranjang lu. Mau beli berapa kilo?"

"Masing-masing satu kilo aja, Wak. Sama tolong ambilin tepung ketan, bubuk cokelat premium, dan bunga telang yang di pojok itu ya," lanjut Pongky manja.

Saat sesi pembayaran, kelucuan makin menjadi-jadi. Pongky tidak bisa mengambil dompet dari balik kain kafannya.

"Wak, maaf banget nih... dompet Pongky ada di kantong dalam. Wak Iyem tolong rogoh kain flanel Pongky bagian kanan ya... Tapi jangan dicubit, Pongky geli banget, Wak!"

Sontak seluruh ibu-ibu di lapak sayur tertawa terpingkal-pingkal melihat Wak Iyem yang harus berjuang merogoh dompet pink dari dalam ikatan kain kafan Pongky.


Pengawalan Ketat Hansip Dorma

Kerumunan ibu-ibu yang gemas dan berebut ingin mencubit pita di kepala Pongky sempat membuat pasar menjadi macet total.
Beruntung, Hansip Dorma sedang berpatroli pagi itu. Dengan seragam hijaunya yang rapi dan tatapan tegas, Dorma langsung membunyikan peluit setinggi langit.
Prreeeeeettt!!

"Ibu-ibu! Tolong beri jalan untuk pelaku UMKM kita! Jangan digoda terus Pongky-nya, ntar dia pingsan repot kita gak bisa minum es teh jumbo nanti malam!" teriak Dorma sambil memasang badan, mengawal Pongky layaknya bodyguard mengamankan artis papan atas.

Mas Hans yang kebetulan sedang memantau harga sembako ikut membantu mengangkat keranjang belanja Pongky yang sudah penuh.

"Ayo Pong, cepat amankan bahan-bahannya. Mommy Rangkat dan Ci Jingga sudah menunggu di pos ronda untuk food testing!"


Menu Baru yang Estetik dan "Kiyowo"

Sore harinya, berkat perjuangan kocak di pasar subuh, Kedai Pongky resmi memperkenalkan dua menu baru yang sangat estetik untuk mendampingi menu andalan lamanya.

Es Bunga Telang "Magic Lavender": Minuman teh herba dari bunga telang segar hasil buruan di pasar yang dipadukan dengan perasan jeruk nipis alami.
Saat disajikan, warnanya akan berubah dari biru magis menjadi ungu lavender yang sangat cantik dan instagrammable.

Mochi Pocong Cokelat Lumer: Kue mochi kenyal dari tepung ketan dan ubi ungu yang dibentuk lonjong menyerupai pocong mini lengkap dengan ikatannya, lalu ditaburi bubuk cokelat premium. Begitu digigit, cokelat manis di dalamnya langsung meleleh lumer di mulut.

Kedua menu baru ini langsung dipajang di papan menu gerobak pink disandingkan dengan menu lama seperti Sempol Ayam Kain Kafan dan Sostel Horor tapi Manis.

Mommy Rangkat yang datang sore itu langsung berdecak kagum saat melihat Es Magic Lavender miliknya. "Oh my god, Pongky! Ini warnanya gorgeous banget! Sangat cocok untuk feeds Instagram Mommy!"

Di sebelahnya, Ci Jingga mengembuskan asap kreteknya dengan anggun sambil mengambil satu Mochi Pocong. 

"Kenyalnya pas, manisnya aduhai... Kamu emang berbakat, Pong."

Melihat tanggapan positif dari para pelanggan elitnya, Pongky melompat gembira boing-boing di balik gerobak, siap menyambut malam Minggu berikutnya dengan omzet yang dipastikan makin melejit.