Senin, 29 Juni 2026

Serbuan Pelanggan dan Penertiban Malam Minggu



Suasana di depan gerobak merah muda "Kedai Es Teh & Camilan Pongky" makin ramai dan riuh.
Kehadiran Emak Bawel yang berdiri tegak sambil memegang sapu lidi di depan kedai memastikan tidak ada pembeli yang membuang sampah sembarangan justru membuat suasana malam itu makin terasa komplit.

"Ayo, tertib! Yang antre jangan pada serakah, semua kebagian sempolnya Mba Aya!" teriak Emak Bawel sambil mengacungkan gagang sapunya ke arah kerumunan warga.

Melihat antrean yang mulai meluber hingga menutup jalan setapak desa, tiba-tiba terdengar suara peluit nyaring yang ditiup dengan penuh otoritas.
Prreeeeeeeettt!!

"Bubar-bubar! Eh maksudnya, merapat ke kiri! Jangan menutup jalur evakuasi warga!"

Muncul sesosok wanita tegap berseragam hijau lumut lengkap dengan baret miringnya.
Dia adalah Dorma, hansip wanita satu-satunya sekaligus yang paling disegani di Desa Rangkat.
Dengan langkah tegas dan tatapan mata yang tajam, Dorma langsung memasang tali pembatas dari rafia di sekitar area pos ronda untuk menertibkan barisan pembeli.

"Mas Hans, tolong dibantu itu barisan sebelah kanan disisir! Jangan sampai mengganggu kenyamanan Mommy Rangkat dan Ci Jingga yang sedang asyik jajan," perintah Dorma tegas kepada Mas Hans.

Mas Hans yang digertak oleh satu-satunya hansip wanita itu hanya bisa mengangguk siap grak.


Kedatangan Sesepuh dan Kritik Kuliner

Di tengah antrean yang mulai rapi berkat ketegasan Dorma, berjalanlah dua sosok sesepuh desa yang sangat dihormati. Mereka adalah Bunda Yety dan Kakek Astoko.

Bunda Yety tampil anggun dengan selendang batiknya, sementara Kakek Astoko berjalan perlahan menggunakan tongkat kayu kesayangannya sambil sesekali membetulkan letak kacamata tuanya.

"Walah... walah, ada keramaian apa ini di dekat pohon beringin? Kok baunya harum stroberi, biasanya kan bau kemenyan terbakar," ujar Bunda Yety sambil tersenyum ramah, menyapa Bang Ibay dan Kang Repot yang sedang sibuk membantu mengemas pesanan.

"Ini loh, Bun... Kedai jajanannya Pongky sama Mba Aya. Murah meriah, cuma tiga ribuan aja!" sahut Kang Repot penuh semangat.

Kakek Astoko mendekati gerobak pink Pongky, mengendus aroma dari wajan penggorengan Mba Aya, lalu mengetukkan tongkatnya ke tanah.

"Zaman purba dulu, hantu itu bikin orang jantungan, le. Sekarang kok malah jualan sempol? Coba, Kakek mau rasa seberapa hebatnya 'Sempol Ayam Kain Kafan' buatan kuntilanak zaman sekarang."

Mba Aya dengan takzim memberikan satu tusuk sempol hangat yang baru diangkat dari wajan kepada Kakek Astoko.

"Ini, Kakek... silakan dicicipi. Khusus Kakek, bumbunya saya buat tidak terlalu pedas... Hihihihi."

Kakek Astoko menerima sempol tersebut, meniupnya perlahan, lalu menggigitnya.

Suasana mendadak hening. Warga, Emak Bawel, bahkan Dorma si hansip pun menahan napas menunggu penilaian dari sesepuh terjujur di Desa Rangkat itu.
Nyam... nyam... nyam...

"Bagaimana, Kek?" tanya Pongky cemas, hingga ikatan pita kain flanel di kepalanya ikut bergoyang tegang.

Kakek Astoko terdiam sejenak, lalu matanya berbinar.

"Luar biasa! Daging ayamnya terasa gurih, lilitan telur dadar di luarnya empuk. Ini teksturnya pas buat gigi palsu Kakek yang sudah goyang. Juara!"


Kehangatan di Desa Rangkat

Mendengar pujian Kakek Astoko, Bunda Yety langsung ikut memesan.

"Kalau begitu, Bunda pesan Es Teh Manis Jumbo Pinky-nya ya, Pong. Biar segar dan awet muda seperti Mommy Rangkat!" ucap Bunda Yety sambil terkekeh, membuat Mommy Rangkat yang sedang minum es teh langsung melambaikan tangannya dengan elegan.

Malam kian larut, namun kehangatan di depan pos ronda Desa Rangkat justru makin memuncak.
Berkat pengamanan ketat dari Hansip Dorma, koordinasi Mas Hans, serta dukungan dari sesepuh seperti Bunda Yety dan Kakek Astoko, dagangan Pongky malam itu kembali habis terjual tanpa sisa.

Pongky melompat gembira di dalam gerobaknya. Dia memandang sekelilingnya dengan penuh rasa syukur. Dia mungkin hanya hantu tiruan dari kain flanel reject ITC Mangga Dua, tetapi di tempat ini, di antara manusia dan hantu lokal yang saling mendukung, Pongky telah menemukan rumah dan keluarga sejatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar